Part - 6 Analisis Rasio
Pengertian analisis rasio keuangan atau yang dikenal dengan
istilah financial ratio ialah
sebagai alat analisis untuk membandingkan angka-angka yang terdapat pada
laporan keuangan dan juga untuk melihat atau mengetahui posisi keuangan suatu
perusahaan serta menilai kinerja manajemen perusahaan tersebut dalam satu
periode tertentu. Menganalisisnya
dengan cara membandingkan angka angka yang terdapat dalam Neraca disatu sisi
dan Rugi-Laba di sisi lain.
Berikut ini merupakan jenis-jenis rasio keuangan yang umum
dgunakan yaitu:
- Liquidity ratios atau
rasio likuiditas merupakan rasio yang menunjukan kemampuan perusahaan untuk
memenuhi kewajiban jangka pendek. Formulasi yang digunakan untuk
menganalisis rasio likuiditas diantaranya adalah :
§
Rasio
Lancar (Current Ratio)
§
Rasio
Cepat (Quick Ratio)
§ Rasio Kas (Cash Ratio)
- Laverage / solvability
ratios adalah rasio yang menggabarkan
kesangupan atau kemampuan suatu perusahaan dalam memenuhi kewajibannya,
baik kewajiban jangka pendek maupun jangka panjang. Formulasi yang
digunakan untuk menganalisis rasio solvabiilitas diantaranya adalah :
§
Debt
to Assets Ratio
§ Debt to Equity Ratio
- Activity ratios atau
rasio aktivitas adalah rasio yang menunjukkan tingkat efektifitas dalam
penggunaan aktivitas atau kekayaan asset. Formulasi yang digunakan untuk
menganalisis rasio aktivitas diantaranya adalah :
§
Perputaran
Persediaan/Inventory Turn Over (TATO)
§
Perputaran
Piutang/Accounrecivable Turn Over (TATO)
§ Perputaran Aktiva/Total Assets
Turn Over (TATO)
- Probability ratios atau
rasio profitabilitas dan rasio profitabilitas merupakan rasio yang
menunjukkan tingkat perolehan keuntungan dibandingkan penjual atau aktiva.
Formulasi yang digunakan untuk menganalisis rasio profitabilitas
diantaranya adalah :
§
Gross
Profit margin
§
Operating
Profit margin
§
Net
Profit margin
§
Return
On Equity
§ Return On Assets
- Market ratios atau
rasio pasar merupakan rasio yang menunjukan nilai investasi perusahaan
dalam surat berharga seperti saham dan oblogasi. Formulasi yang digunakan
untuk menganalisis rasio pasar diantaranya adalah :
§
Price
Book Value
§
Earning
Per Share
§
Price
Earning Ratio
§ Dividen Payout Ratio
Analisis Value
Added
Economic value Added adalah suatu sistem manajemen keuangan untuk mengukur laba
ekonomis dalam suatu perusahaan yang menyatakan bahwa kesejahteraan hanya dapat
tercapai jika perusahaan mampu memenuhi semua biaya operasi (operating cost) dan biaya modal (cost of capital). Analisis Economic value added (EVA) juga dapat
diartikan sebagai analisis manjemen internal yang menunjuk ukuran yang
menbandingkan laba bersih setelah pajak dengan biaya modal.
Pendekatan yang lebih baru dalam
penilaian saham adalah dengan menghitung economic
value added (EVA) suatu perusahaan. Economic
value added (EVA) adalah ukuran keberhasilan manajemen perusahaan dalam
meningkatkan nilai tambah (value added)
bagi perusahaan. Asumsinya adalah jika kinerja manajemen baik/efektif (dilihat
dari besarnya nilai tambah yang diberikan), maka akan tercermin pada
peningkatan harga saham perusahaan (Tandelilin, 2010).
Metode economic value added pertama kali dikembangkan oleh Stewart dan
Stern seorang analisis keuangan dari perusahaan Stern Stewart dan Co pada tahun
1993. Di Indonesia metode tersebut dikenal dengan nama Nilai Tambah Ekonomi
(NITAMI). Economic value added (EVA)
merupakan perbedaan di antara laba operasi setelah pajak dan total biaya modal,
termasuk biaya ekuitas modal. EVA adalah suatu estimasi dari nilai yang
diciptakan oleh manajemen selama tahun berjalan, dan secara substansial berbeda
dari laba akuntansi karena tidak ada pembebanan akibat penggunaan ekuitas modal
yang tercermin di dalam laba akuntansi (Brigham dan Houston, 2006).
Bodie,
Kane, dan Marcus (2006) economic value
added (EVA) adalah sebaran antara ROA dan biaya modal (cost of capital) dikalikan jumlah modal yang diinvestasikan dalam
perusahaan. EVA mengukur nilai dolar dari selisih bagi hasil yang diperoleh
perusahaan dengan biaya peluangnya.
Pengertian lain menyatakan bahwa EVA didasarkan pada gagasan keuntungan
ekonomis (juga dikenal sebagai penghasilan sisa atau residual income) yang menyatakan bahwa kekayaan hanya diciptakan
ketika sebuah perusahaan meliputi biaya operasi dan biaya modal (Young dan
O’Byrne, 2001). EVA merupakan laba ekonomis yang dapat dihitung untuk setiap
kesatuan, termasuk divisi, departemen, lini produk, segmen bisnis secara
geografis, dan sebagainya.
EVA memberikan tolok ukur yang baik tentang apakah perusahaan
telah memberikan nilai tambah kepada pemegang saham. Oleh karena itu, jika
manajer memfokuskan pada EVA, maka hal ini membantu memastikan bahwa mereka
beroperai dengan cara yang konsisten untuk memaksimalkan nilai pemegang saham.
Perhatikan pula bahwa EVA dapat ditentukan untuk devisi dan perusahaan secara
keseluruhan, sehingga EVA memberikan dasar yang berguna dalam menentukan
kompensasi manajemen pada semua tingkatan. Sehingga pada saat ini banyak
perusahaan mengunakan EVA sebagai dasar utama untuk menentukan kompensasi
manajemen.
Kelebihan dan Kekurangan EVA
Kelebihan
yang dimiliki model EVA adalah:
§
EVA merupakan alat ukur yang dapat berdiri sendiri tidak
memerlukan adanya suatu perbandingan dengan perusahaan sejenis dalam industri
dan tidak perlu pula membuat suatu analisis kecenderungan dengan tahun-tahun
sebelumnya.
§
EVA adalah alat pengukur kinerja perusahaan yang melihat
segi ekonomis dalam pengukurannya, yaitu dengan memperhatikan harapan-harapan
para pemilik modal (kreditur dan pemegang saham) secara adil. Dimana derajat
keadilannya dinyatakan dengan ukuran tertimbang dari struktur modal yang ada
dan berpedoman pada nilai pasar bukan nilai buku.
§
Model EVA dapat dipakai sebagai tolak ukur dalam
pemberian bonus kepada karyawan. EVA merupakan tolak ukur yang tepat untuk
menjalankanstockholders atisfaction concept yakni memperhatikan
karyawan, pelanggan dan pemilik modal.
Kriteria
penentuan anggaran bonus dengan model EVA adalah:
EVA < 0, maka karyawan tidak mendapatkan
bonus hanya gaji.
EVA = 0, maka karyawan tidak mendapatkan
bonus hanya gaji.
EVA > 0, maka karyawan berhak mendapatkan
bonus.
Adapun
kelemahan EVA adalah:
§
Secara konseptual EVA memegang lebih unggul daripada
pengukur tradisional akuntansi, namun secara praktis belum tentu dapat diterapkan
dengan mudah. Penentuan biaya modal saham cukup rumit sehingga diperlukan
analisis yang lebih mendalam tentang teknik-teknik menaksir biaya modal saham.
§
EVA adalah alat ukur semata dan tidak bisa berfungsi
sebagai cara untuk mencapai sasaran perusahaan sehingga diperlukan suatu cara
bisnis tertentu untuk mencapai sasaran perusahaan.
§
Masih mengandung unsur keberuntungan (tinggi rendahnya
EVA dapat dipengaruhi oleh gejolak pasar modal).
§
EVA hanya menggambarkan penciptaan nilai pada suatu tahun
tertentu.
§
EVA mendorong pengalokasian dana perusahaan untuk
investasi dengan biaya modal yang rendah. Investasi yang demikian umumnya
memiliki resiko yang kecil sehingga secara tidak langsung EVA mendorong
perusahaan untuk menghindari resiko padahal sebagian besar inovasi-inovasi
dalam bisnis memiliki resiko yang sangat tinggi terutama dalam era pasar bebas
yang penuh dengan ketidakpastian.
Metode Perhitungan Economic Value Added (EVA)
Ada beberapa pendekatan yang dapat
digunakan untuk mengukur EVA, tergantung dari struktur modal dari perusahaan.
Apabila dalam struktur modalnya perusahaan hanya menggunakan modal sendiri,
secara matematis EVA dapat ditentukan sebagai berikut:
EVA
= NOPAT – (i x E)
Keterangan:
NOPAT =
Net Operating Profit After Taxes
ie = Opportunity
cost of equity
E =
Total Equity
Namun apabila dalam struktur modal
perusahaan terdiri dari hutang dan modal sendiri, secara matematis EVA dapat
dirumuskan sebagai berikut:
EVA = NOPAT – (WACC x TA)
Keterangan :
NOPAT = Net
Operating Profit After Taxes
WACC = Weighted
Average Cost of Capital
TA = Total Asset (Total modal yang diinvestasikan)
Interpretasi
dari hasil perhitungan EVA adalah sebagai berikut :
1. Jika EVA > 0 hal ini menunjukkan
terjadi nilai tambah ekonomis bagi perusahaan.
2. Jika EVA < 0 hal ini menunjukkan
tidak terjadi nilai tambah ekonomis bagi perusahaan.
3. Jika EVA = 0 hal ini menunjukkan
posisi impas karena laba telah digunakan untuk membayar kewajiban kepada
penyandang dana baik kreditur maupun pemegang saham.
EVA sama dengan selisih antara laba
operasi perusahaan setelah pajak (NOPAT) dengan biaya modal. Biaya modal sama
dengan yang diinvestasikan perusahaan (juga disebut modal atau modal yang
dipakai) dikalikan dengan biaya modal rata-rata tertimbang (WACC).
EVA = NOPAT – (WACC x Modal yang
diinvestasikan)
Net
Operating Profit After Tax
(NOPAT)
Net Operating Profit After Taxes (NOPAT)
atau laba operasi bersih setelah pajak merupakan sejumlah laba perusahaan yang
akan dihasilkan jika perusahaan tersebut tidak memiliki utang dan tidak
memiliki asset financial. NOPAT dapat
dihitung dengan menggunakan rumus (Sartono, 2001:100).
NOPAT = EBIT (1- Tarif Pajak)
Faktor
yang non operasional dan laba rugi luar biasa, seperti laba/rugi dari
penghentian unit usaha serta beberapa akun laba/rugi lain-lain yang sama sekali
tidak berhubungan dengan kegiatan operasional rutin perusahaan dan tidak ada
keterangan yang jelas dalam catatan laporan keuangan perusahaan, tidak
diikutsertakan dalam perhitungan NOPAT.
Weighted
Average Cost of Capital
(WACC)
Weighted Average Cost of Capital
(WACC) atau biaya modal rata-rata tertimbang adalah biaya ekuitas dan biaya
hutang masing-masing dikalikan dengan persentase ekuitas dan hutang dalam
struktur modal. WACC dapat dihitung dengan menggunakan rumus:
E D
WACC = --- * Ke + ---
x Kd *( 1 – T )
V V
Dimana :
Ke = cost of
equity
Kd = cost of debt
E = market
value of the firm's equity
D = market
value of the firm's debt
V = E + D = total market value of the firm’s
financing (equity and debt)
E/V = percentage of
financing that is equity
D/V = percentage of
financing that is debt
T = corporate
tax rate
Atau
:
Rumus
untuk menghitung WACC adalah (Brigham dan Houston, 2006) :
WACC = Wd.Kd (1-T) + Wp.Kp + Ws.Ks
Keterangan:
WACC : Weighted
Average Cost of Capital (Biaya Modal Rata-rata Tertimbang)
Wd : Persentase hutang dari modal
Kd : Biaya hutang
Kp : Biaya saham preferen
Ws : Persentase saham biasa atau laba
ditahan dari modal
Ks : Biaya laba ditahan
T : Tarif Pajak
Perusahaan
dapat menghitung WACC dengan mengetahui hal-hal sebagai berikut :
1. Wd adalah persentase hutang dalam
struktur modal
2. We adalah persentase ekuitas dalam
struktur modal
3. Kd adalah biaya hutang (cost of debt)
4. Tingkat pajak
5. Ke adalah biaya modal sendiri atau biaya
ekuitas (cost of equity)
6. Total investasi
Biaya
modal sering disamakan dengan istilah tingkat pengembalian yang disyaratkan
perusahaan (the firm’s required rate of return), tingkat ambang (the
hurdle rate), tingkat diskonto (the discount rate), dan biaya
kesempatan dana perusahaan (the firm’s opportunity codt of funds). Biaya
modal dapat didefinisikan sebagai biaya peluang atas penggunaan dana investasi
untuk diinvestasikan dalam proyek-proyek baru. Biaya modal yang digunakan, baik untuk perusahaan maupun
proyek khusus, adalah biaya modal rata-rata tertimbang. Biaya modal rata-rata
tertimbang dapat dihitung dengan menggunakan WACC (Weigted Average Cost of
Capital). Adapun komponen dari biaya rata-rata tertimbang antara lain:
a)
Biaya utang (cost of debt)
b)
Biaya saham prefern (cost of preffered stock)
c)
Biaya ekuitas biasa (cost of common equity)
Biaya
modal (cost of capital) adalah biaya
kesempatan yaitu tingkat dari pengembalian yang diharapkan oleh penyedia dana,
jika modal itu diinvestasikan ke tempat lainnya dalam suatu proyek, aktiva atau
perusahaan dengan risiko yang sebanding. Biaya modal terdiri dari biaya
pendanaan dengan utang (cost of debt
financing) yaitu biaya bunga setelah pajak yang berkaitan dengan peminjaman
uang. Biaya pendanaan dengan ekuitas (cost
of equity financing) adalah tingkat pengembalian modal yang diharapkan
(baik berupa deviden maupun peningkatan harga pasar dan investasi) yang
digunakan untuk menarik investor agar mau memberikan modal ekuitas.
Adapun
untuk konsep biaya utang itu sendiri ada dua macam, yaitu biaya utang sebelum
pajak dan biaya utang setelah pajak. Biaya utang sebelum pajak dapat ditentukan dengan
menghitung tingkat hasil internal atas arus kas surat-surat obligasi. Sedangkan
untuk biaya utang setelah pajak dapat dihitung dengan mengalikan biaya utang
sebelum pajak dengan tingkat pajak marginal. Adapun besarnya tingkat
pajak yang berlaku di Indonesia saat ini menggunakan tarif tetap yaitu 25%.
Biaya
hutang adalah tingkat sebelum pajak yang dibayar perusahaan kepada pemberi
pinjamannya. Tingkat pajak korporasi penting untuk tujuan WACC karena
pembayaran bunga adalah dapat memotong pajak. Biaya hutang dapat di hitung
menggunakan rumus (Pradhono dan Yulius (2005):
|
Biaya Hutang (Kd) = |
Biaya bunga tahunan |
|
Total hutang jangka panjang |
Biaya
ekuitas adalah pengembalian yang diminta investor untuk membuat investasi
ekuitas dalam perusahaan. Setiap investor menginginkan pengembalian yang
setinggi mungkin, yang sudah jelas tidak memberikan pedoman kongkrit apapun
untuk memperkirakan biaya ekuitas. Model yang paling popular untuk tujuan ini
disebut model penetapan harga aktiva modal (capital
asset pricing model/CAPM).
Dengan menggunakan CAPM, biaya
ekuitas akan dihitung dengan rumus :
E
(R) = Rf + [ Beta x ( E(Rm) – Rf)]
Dimana
E(R) adalah harapan pengembalian dari aktiva berisiko manapun, Rf
adalah pengembalian atas suatu aktiva bebas risiko (seperti obligasi
pemerintah). Beta adalah pengukuran dari risiko dan E(Rm) adalah
harapan pengembalian atas pasar saham.
Modal yang Diinvestasikan
Modal
yang diinvestasikan merupakan jumlah seluruh keuangan perusahaanterlepas dari
kewajiban jangka pendek, pasiva tidak menanggung bunga ( noninterest bearing
liabilities) seperti hutang, upah yang akan jatuh tempo (accrued wages), dan pajak yang akan jatuh
tempo (accrued taxes). Modal yang diinvestasikan merupakan jumlah
ekuitas pemegang saham ditambah dengan hutang jangka pendek dan seluruh hutang
jangka panjang.
Modal
yang diinvestasikan = utang jangka pendek
+ utang jangka panjang + kewajiban jangka panjang lainnya + ekuitas pemegang
saham
Langkah-langkah menentukan EVA
|
No. |
Langkah |
Dalam |
Keterangan |
|
1. |
Biaya
Modal Hutang (Kd) a. Biaya
Bunga b. Jumlah
hutang jangka panjang c. Suku
bunga d. Tingkat
pajak e. Faktor
koreksi (1-T) f. Biaya
modal hutang |
Rp Rp % % % % |
Lap. L/R Neraca (1a) /
(1b) Lap. L/R 1-(1d) (1e)x(1c) |
|
2. |
Biaya
Modal Saham (Ke) a. Tingkat
bunga bebas resiko (Rf) b. Ukuran
resiko saham perusahaan (b) c. Tingkat
bunga investasi pasar (Rm) d. Biaya
modal saham (Ke) |
% % % % |
Bunga
bank pemerintah Hasil
Perhitungan Bursa
efek (2a)+[(2b)x{(2c)-(2a)}] |
|
3. |
Struktur
Modal a. Hutang
jangka panjang b. Modal
saham c. Jumlah
modal d. Komposisi
hutang jangka panjang e. Komposisi
modal saham |
Rp Rp Rp % % |
Neraca Neraca (3a)+(3b) (3a)/(3c) (3b)/(3c) |
|
4. |
WACC a. Biaya
modal rata-rata tertimbang |
% |
{(3d)x(1f)}+{(3e)x(2d)} |
|
5. |
EVA a. EBT b. Beban
pajak c. EAT d.
WACC e.
EVA |
Rp Rp Rp Rp Rp |
Lap. L/R (1d)x(5a) (5a)-(5b) (4a)x(3c) (5c)-(5d) |
Adapun
perhitungan dari langkah-langkah tersebut diatas adalah:
1. Menghitung
biaya modal hutang (cost of debt = Kd)
Dalam menjalankan operasionalnya suatu perusahaan akan
dibiayai dengan modal, dimana modal tersebut berasal dari pihak ketiga. Modal
dari pihak ketiga tersebut berupa dana pinjaman baik jangka panjang maupun dana
yang diinvestasikan ke dalam perusahaan. Perhitungan biaya modal ini,
menghitung beban yang ditanggung oleh perusahaan dalam penggunaan dan pinjaman
dari debitur. Dana pinjaman yang dimaksud antara lain sewa guna usaha pinjaman
dari bank, obligasi, wesel bayar, hutang jangka panjang yang jatuh tempo dalam
satu tahun. Komponen-komponen yang dipakai dalam perhitungan biaya modal hutang
adalah jumlah hutang jangka panjang, beban bunga dan pajak yang dibebankan
kepada perusahaan. Untuk menghitung biaya modal hutang ini, langkah-langkah
yang perlu dilakukan adalah mencari biaya hutang sebelum pajak (Kb)
dengan rumus:
Interest exp.
Kb =
----------------- x 100%
Total Debt
Adapun perhitungan biaya hutang sebelum pajak (Kb)
adalah sebagai berikut :
Perhitungan Biaya Hutang Sebelum Pajak (Kb)
|
No |
Emiten |
Thn |
D |
Interest |
Kb |
|
|
1 |
PT. X |
2013 |
9,093,518 |
636,546 |
0.07 |
|
|
2014 |
9,681,888 |
580,913 |
0.06 |
|||
|
2015 |
10,902,585 |
545,129 |
0.05 |
|||
|
2 |
PT. Z |
2013 |
209,066 |
16725.28 |
0.08 |
|
|
2014 |
324,855 |
22739.85 |
0.07 |
|||
|
2015 |
382,245 |
22170.21 |
0.06 |
Sehingga dari tabel di
atas dapat dilihat bahwa hasil perhitungan
biaya hutang pada tahun
2013 sampai 2015 adalah 0,05 (5%) sampai 0,08 (8%).
Sedangkan untuk tarif
pajak perusahaan dalam penelitian ini dihitung dengan cara sebagai berikut:
Tax exp.
T = ----------------- x 100%
EBIT
Adapun
perhitungan tarif pajak (T) adalah sebagai berikut:
Perhitungan Tarif Pajak (T)
|
No |
Emiten |
Thn |
Pajak penghasilan |
EBIT |
T |
|
|
1 |
PT. X |
2013 |
2,006,045 |
7,164,445 |
0.28 |
|
|
2014 |
1,940,582 |
7,762,328 |
0.25 |
|||
|
2015 |
1,587,880 |
7,939,401 |
0.20 |
|||
|
2 |
PT. Z |
2013 |
2,741 |
9,790 |
0.28 |
|
|
2014 |
3,544 |
14,175 |
0.25 |
|||
|
2015 |
2,550 |
12,749 |
0.20 |
Dari tabel di atas dapat
dilihat bahwa hasil perhitungan
tarif pajak (T) setiap
tahun mengalami perubahan. Hal ini
mungkin dikarenakan adanya penurunan tarif pajak yang ditetapkan oleh Pemerintah.
Setelah menghitung tarif
pajak, selanjutnya adalah menentukan faktor dalam perhitungan biaya modal
hutang setelah pajak, yang diperoleh dengan cara:
Kd =
Cost of Debt (Kb) x (1-T)
Perhitungan Biaya Modal Hutang (Kd )
|
No |
Emiten |
Thn |
Kb |
T |
Kd |
|
|
1 |
PT. X |
2013 |
0.07 |
0.28 |
0.05 |
|
|
2014 |
0.06 |
0.25 |
0.05 |
|||
|
2015 |
0.05 |
0.20 |
0.04 |
|||
|
2 |
PT. Z |
2013 |
0.08 |
0.28 |
0.06 |
|
|
2014 |
0.07 |
0.25 |
0.05 |
|||
|
2015 |
0.06 |
0.20 |
0.05 |
Berdasarkan tabel diatas,
hasil perhitungan biaya modal hutang biaya modal hutang perusahaan tidak banyak mengalami perubahan hanya berkisar pada angka 0,04 % sampai
0,06 %. Setelah menghitung Kd maka selanjutnya akan menghitung Ke.
Adapun perhitungan biaya modal
saham (Ke) adalah
sebagai berikut:
Dividen
Ke = ---------------------- x 100%
Modal Saham
Perhitungan
Biaya Modal Saham (Ke)
|
No |
Emiten |
Thn |
Dividen |
Modal Saham |
Ke |
|
|
1 |
PT. X |
2013 |
701 |
7,630 |
0.09 |
|
|
2014 |
336 |
7,630 |
0.04 |
|||
|
2015 |
766 |
7,630 |
0.10 |
|||
|
2 |
PT. Z |
2013 |
0 |
590 |
0 |
|
|
2014 |
0 |
590 |
0 |
|||
|
2015 |
0 |
590 |
0 |
Sehingga
dari tabel di atas dapat dilihat bahwa hasil perhitungan
biaya modal saham (Ke) PT. X adalah
0,04 %
sampai 1,10%, sedangkan biaya modal saham PT. Z adalah 0 % dikarenakan perusahaan tidak membagikan
dividen.
Setelah menghitung Kd dan Ke maka selanjutnya akan menghitung WACC.
E D
WACC
= --- * Ke + --- x Kd *( 1 – T )
V V
Perhitungan
WACC
|
No |
Emiten |
Thn |
Ke |
Kd |
1- T |
V = E + D |
WACC |
|
|
1 |
PT. X |
2013 |
0.09 |
0.05 |
0.75 |
13,348,188 |
0.05 |
|
|
2014 |
0.04 |
0.05 |
0.75 |
14,280,670 |
0.04 |
|||
|
2015 |
0.10 |
0.04 |
0.75 |
15,729,945 |
0.06 |
|||
|
2 |
PT. Z |
2013 |
0 |
0.06 |
0.75 |
504,865 |
0.02 |
|
|
2014 |
0 |
0.05 |
0.75 |
653,224 |
0.02 |
|||
|
2015 |
0 |
0.05 |
0.75 |
710,614 |
0.02 |
Berdasarkan
tabel diatas, hasil perhitungan biaya modal tertimbang (WACC) perusahaan tidak banyak mengalami perubahan hanya berkisar pada angka 0,02 % sampai 0,06 %.
Pada tahap akhir kita akan menghitung EVA perusahaan seperti
berikut ini :
EVA = NOPAT – WACC x Modal yang diinvestasikan (CC)
NOPAT = EBIT (1- T)
CC = Total debt + Total
Equity
Perhitungan
EVA
|
No |
Emiten |
Thn |
EBIT |
TARIF PAJAK |
NOPAT |
WACC |
CC |
EVA |
|
|
1 |
PT. X |
2013 |
7,164,445 |
28% |
5,373,334 |
0.05 |
731,901 |
4,641,433 |
|
|
2014 |
7,762,328 |
25% |
5,821,746 |
0.04 |
565,586 |
5,256,160 |
|||
|
2015 |
7,939,401 |
20% |
5,954,551 |
0.06 |
893,481 |
5,061,070 |
|||
|
2 |
PT. Z |
2013 |
9,790 |
28% |
7,343 |
0.02 |
9,408 |
(2,065) |
|
|
2014 |
14,175 |
25% |
10,631 |
0.02 |
12,182 |
(1,551) |
|||
|
2015 |
12,749 |
20% |
9,562 |
0.02 |
14,334 |
(4,772) |
Berdasarkan
tabel diatas, hasil perhitungan EVA terlihat PT. X memiliki nilai EVA positif
(EVA > 1) maka disimpulkan perusahaan memiliki nilai tambah ekonomis. PT. Z
memiliki nilai EVA negatif (EVA < 1) maka disimpulkan perusahaan tidak
memiliki nilai tambah ekonomis.
Perusahaan yang memliki nilai tambah ekonomis positif mnunjukkan perusahaan teah berhasil menciptakan nilai tambah bagi pemegang saham. Kondisi ini tentu akan berdampak positif bagi pekembangan nilai perusaan dan harga saham yang akan mengalami peningkatan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar