Rabu, 11 November 2020

 

Part - 6 Analisis Rasio

Pengertian analisis rasio keuangan atau yang dikenal dengan istilah financial ratio  ialah sebagai alat analisis untuk  membandingkan angka-angka yang terdapat pada laporan keuangan dan juga untuk melihat atau mengetahui posisi keuangan suatu perusahaan serta menilai kinerja manajemen perusahaan tersebut dalam satu periode tertentu. Menganalisisnya dengan cara membandingkan angka angka yang terdapat dalam Neraca disatu sisi dan Rugi-Laba di sisi lain.

Berikut ini merupakan jenis-jenis rasio keuangan yang umum dgunakan yaitu:

  1. Liquidity ratios atau rasio likuiditas merupakan rasio yang menunjukan kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban jangka pendek. Formulasi yang digunakan untuk menganalisis rasio likuiditas diantaranya adalah :

§  Rasio Lancar (Current Ratio)

§  Rasio Cepat (Quick Ratio)

§  Rasio Kas (Cash Ratio)

  1. Laverage / solvability ratios adalah rasio yang menggabarkan kesangupan atau kemampuan suatu perusahaan dalam memenuhi kewajibannya, baik kewajiban jangka pendek maupun jangka panjang. Formulasi yang digunakan untuk menganalisis rasio solvabiilitas diantaranya adalah :

§  Debt to Assets Ratio

§  Debt to Equity Ratio

  1. Activity ratios atau rasio aktivitas adalah rasio yang menunjukkan tingkat efektifitas dalam penggunaan aktivitas atau kekayaan asset. Formulasi yang digunakan untuk menganalisis rasio aktivitas diantaranya adalah :

§  Perputaran Persediaan/Inventory Turn Over (TATO)

§  Perputaran Piutang/Accounrecivable Turn Over (TATO)

§  Perputaran Aktiva/Total Assets Turn Over (TATO)

  1. Probability ratios atau rasio profitabilitas dan rasio profitabilitas merupakan rasio yang menunjukkan tingkat perolehan keuntungan dibandingkan penjual atau aktiva. Formulasi yang digunakan untuk menganalisis rasio profitabilitas diantaranya adalah :

§  Gross Profit margin

§  Operating Profit margin

§  Net Profit margin

§  Return On Equity

§  Return On Assets

  1. Market ratios atau rasio pasar merupakan rasio yang menunjukan nilai investasi perusahaan dalam surat berharga seperti saham dan oblogasi. Formulasi yang digunakan untuk menganalisis rasio pasar diantaranya adalah :

§  Price Book Value

§  Earning Per Share

§  Price Earning Ratio

§  Dividen Payout Ratio

 

Analisis Value Added

Economic value Added adalah suatu sistem manajemen keuangan untuk mengukur laba ekonomis dalam suatu perusahaan yang menyatakan bahwa kesejahteraan hanya dapat tercapai jika perusahaan mampu memenuhi semua biaya operasi (operating cost) dan biaya modal (cost of capital). Analisis Economic value added (EVA) juga dapat diartikan sebagai analisis manjemen internal yang menunjuk ukuran yang menbandingkan laba bersih setelah pajak dengan biaya modal.

Pendekatan yang lebih baru dalam penilaian saham adalah dengan menghitung economic value added (EVA) suatu perusahaan. Economic value added (EVA) adalah ukuran keberhasilan manajemen perusahaan dalam meningkatkan nilai tambah (value added) bagi perusahaan. Asumsinya adalah jika kinerja manajemen baik/efektif (dilihat dari besarnya nilai tambah yang diberikan), maka akan tercermin pada peningkatan harga saham perusahaan (Tandelilin, 2010).

Metode economic value added pertama kali dikembangkan oleh Stewart dan Stern seorang analisis keuangan dari perusahaan Stern Stewart dan Co pada tahun 1993. Di Indonesia metode tersebut dikenal dengan nama Nilai Tambah Ekonomi (NITAMI). Economic value added (EVA) merupakan perbedaan di antara laba operasi setelah pajak dan total biaya modal, termasuk biaya ekuitas modal. EVA adalah suatu estimasi dari nilai yang diciptakan oleh manajemen selama tahun berjalan, dan secara substansial berbeda dari laba akuntansi karena tidak ada pembebanan akibat penggunaan ekuitas modal yang tercermin di dalam laba akuntansi (Brigham dan Houston, 2006).

Bodie, Kane, dan Marcus (2006) economic value added (EVA) adalah sebaran antara ROA dan biaya modal (cost of capital) dikalikan jumlah modal yang diinvestasikan dalam perusahaan. EVA mengukur nilai dolar dari selisih bagi hasil yang diperoleh perusahaan dengan biaya peluangnya.  Pengertian lain menyatakan bahwa EVA didasarkan pada gagasan keuntungan ekonomis (juga dikenal sebagai penghasilan sisa atau residual income) yang menyatakan bahwa kekayaan hanya diciptakan ketika sebuah perusahaan meliputi biaya operasi dan biaya modal (Young dan O’Byrne, 2001). EVA merupakan laba ekonomis yang dapat dihitung untuk setiap kesatuan, termasuk divisi, departemen, lini produk, segmen bisnis secara geografis, dan sebagainya.

EVA memberikan tolok ukur yang baik tentang apakah perusahaan telah memberikan nilai tambah kepada pemegang saham. Oleh karena itu, jika manajer memfokuskan pada EVA, maka hal ini membantu memastikan bahwa mereka beroperai dengan cara yang konsisten untuk memaksimalkan nilai pemegang saham. Perhatikan pula bahwa EVA dapat ditentukan untuk devisi dan perusahaan secara keseluruhan, sehingga EVA memberikan dasar yang berguna dalam menentukan kompensasi manajemen pada semua tingkatan. Sehingga pada saat ini banyak perusahaan mengunakan EVA sebagai dasar utama untuk menentukan kompensasi manajemen.

 

Kelebihan dan Kekurangan EVA 

Kelebihan yang dimiliki model EVA adalah:

§  EVA merupakan alat ukur yang dapat berdiri sendiri tidak memerlukan adanya suatu perbandingan dengan perusahaan sejenis dalam industri dan tidak perlu pula membuat suatu analisis kecenderungan dengan tahun-tahun sebelumnya.

§  EVA adalah alat pengukur kinerja perusahaan yang melihat segi ekonomis dalam pengukurannya, yaitu dengan memperhatikan harapan-harapan para pemilik modal (kreditur dan pemegang saham) secara adil. Dimana derajat keadilannya dinyatakan dengan ukuran tertimbang dari struktur modal yang ada dan berpedoman pada nilai pasar bukan nilai buku.

§  Model EVA dapat dipakai sebagai tolak ukur dalam pemberian bonus kepada karyawan. EVA merupakan tolak ukur yang tepat untuk menjalankanstockholders atisfaction concept yakni memperhatikan karyawan, pelanggan dan pemilik modal.

Kriteria penentuan anggaran bonus dengan model EVA  adalah:

EVA < 0, maka karyawan tidak mendapatkan bonus hanya gaji.

EVA = 0, maka karyawan tidak mendapatkan bonus hanya gaji.

EVA > 0, maka karyawan berhak mendapatkan bonus.

 

Adapun kelemahan EVA adalah:

§  Secara konseptual EVA memegang lebih unggul daripada pengukur tradisional akuntansi, namun secara praktis belum tentu dapat diterapkan dengan mudah. Penentuan biaya modal saham cukup rumit sehingga diperlukan analisis yang lebih mendalam tentang teknik-teknik menaksir biaya modal saham.

§  EVA adalah alat ukur semata dan tidak bisa berfungsi sebagai cara untuk mencapai sasaran perusahaan sehingga diperlukan suatu cara bisnis tertentu untuk mencapai sasaran perusahaan.

§  Masih mengandung unsur keberuntungan (tinggi rendahnya EVA dapat dipengaruhi oleh gejolak pasar modal).

§  EVA hanya menggambarkan penciptaan nilai pada suatu tahun tertentu.

§  EVA mendorong pengalokasian dana perusahaan untuk investasi dengan biaya modal yang rendah. Investasi yang demikian umumnya memiliki resiko yang kecil sehingga secara tidak langsung EVA mendorong perusahaan untuk menghindari resiko padahal sebagian besar inovasi-inovasi dalam bisnis memiliki resiko yang sangat tinggi terutama dalam era pasar bebas yang penuh dengan ketidakpastian.

Metode Perhitungan Economic Value Added (EVA)

Ada beberapa pendekatan yang dapat digunakan untuk mengukur EVA, tergantung dari struktur modal dari perusahaan. Apabila dalam struktur modalnya perusahaan hanya menggunakan modal sendiri, secara matematis EVA dapat ditentukan sebagai berikut:

EVA = NOPAT – (i x E)

Keterangan:

NOPAT         = Net Operating Profit After Taxes

ie                    = Opportunity cost of equity

E                   = Total Equity 

Namun apabila dalam struktur modal perusahaan terdiri dari hutang dan modal sendiri, secara matematis EVA dapat dirumuskan sebagai berikut:

                     EVA = NOPAT – (WACC x TA)

Keterangan :

NOPAT        = Net Operating Profit After Taxes

WACC          = Weighted Average Cost of Capital

TA                 = Total Asset (Total modal yang diinvestasikan)

Interpretasi dari hasil perhitungan EVA adalah sebagai berikut :

1.    Jika EVA > 0 hal ini menunjukkan terjadi nilai tambah ekonomis bagi perusahaan.

2.    Jika EVA < 0 hal ini menunjukkan tidak terjadi nilai tambah ekonomis bagi perusahaan.

3.    Jika EVA = 0 hal ini menunjukkan posisi impas karena laba telah digunakan untuk membayar kewajiban kepada penyandang dana baik kreditur maupun pemegang saham.

EVA sama dengan selisih antara laba operasi perusahaan setelah pajak (NOPAT) dengan biaya modal. Biaya modal sama dengan yang diinvestasikan perusahaan (juga disebut modal atau modal yang dipakai) dikalikan dengan biaya modal rata-rata tertimbang (WACC).

          EVA = NOPAT – (WACC x Modal yang diinvestasikan)

 

Net Operating Profit After Tax (NOPAT)

Net Operating Profit After Taxes (NOPAT) atau laba operasi bersih setelah pajak merupakan sejumlah laba perusahaan yang akan dihasilkan jika perusahaan tersebut tidak memiliki utang dan tidak memiliki asset financial. NOPAT dapat dihitung dengan menggunakan rumus (Sartono, 2001:100).

NOPAT = EBIT (1- Tarif Pajak)

Faktor yang non operasional dan laba rugi luar biasa, seperti laba/rugi dari penghentian unit usaha serta beberapa akun laba/rugi lain-lain yang sama sekali tidak berhubungan dengan kegiatan operasional rutin perusahaan dan tidak ada keterangan yang jelas dalam catatan laporan keuangan perusahaan, tidak diikutsertakan dalam perhitungan NOPAT.

 

Weighted Average Cost of Capital (WACC)

Weighted Average Cost of Capital (WACC) atau biaya modal rata-rata tertimbang adalah biaya ekuitas dan biaya hutang masing-masing dikalikan dengan persentase ekuitas dan hutang dalam struktur modal. WACC dapat dihitung dengan menggunakan rumus:

      E                D

WACC  = --- * Ke + --- x Kd *( 1 – T )

                  V                V

Dimana :

Ke                    = cost of equity

Kd                    = cost of debt

E                      = market value of the firm's equity

D                     = market value of the firm's debt

V = E + D        = total market value of the firm’s financing (equity and debt)

E/V                  = percentage of financing that is equity

D/V                  = percentage of financing that is debt

T                      = corporate tax rate


Atau :

Rumus untuk menghitung WACC adalah (Brigham dan Houston, 2006) :

WACC = Wd.Kd (1-T) + Wp.Kp + Ws.Ks

Keterangan:

WACC    : Weighted Average Cost of Capital (Biaya Modal Rata-rata Tertimbang)

Wd          : Persentase hutang dari modal

Kd           : Biaya hutang

Kp           : Biaya saham preferen

Ws          : Persentase saham biasa atau laba ditahan dari modal

Ks           : Biaya laba ditahan

T             : Tarif Pajak

Perusahaan dapat menghitung WACC dengan mengetahui hal-hal sebagai berikut :

1.    Wd adalah persentase hutang dalam struktur modal

2.    We adalah persentase ekuitas dalam struktur modal

3.    Kd adalah biaya hutang (cost of debt)

4.    Tingkat pajak

5.    Ke adalah biaya modal sendiri atau biaya ekuitas (cost of equity)

6.    Total investasi

Biaya modal sering disamakan dengan istilah tingkat pengembalian yang disyaratkan perusahaan (the firm’s required rate of return), tingkat ambang (the hurdle rate), tingkat diskonto (the discount rate), dan biaya kesempatan dana perusahaan (the firm’s opportunity codt of funds). Biaya modal dapat didefinisikan sebagai biaya peluang atas penggunaan dana investasi untuk diinvestasikan dalam proyek-proyek baru. Biaya modal yang digunakan, baik untuk perusahaan maupun proyek khusus, adalah biaya modal rata-rata tertimbang. Biaya modal rata-rata tertimbang dapat dihitung dengan menggunakan WACC (Weigted Average Cost of Capital). Adapun komponen dari biaya rata-rata tertimbang antara lain:

a)    Biaya utang (cost of debt)

b)    Biaya saham prefern (cost of preffered stock)

c)    Biaya ekuitas biasa (cost of common equity)

Biaya modal (cost of capital) adalah biaya kesempatan yaitu tingkat dari pengembalian yang diharapkan oleh penyedia dana, jika modal itu diinvestasikan ke tempat lainnya dalam suatu proyek, aktiva atau perusahaan dengan risiko yang sebanding. Biaya modal terdiri dari biaya pendanaan dengan utang (cost of debt financing) yaitu biaya bunga setelah pajak yang berkaitan dengan peminjaman uang. Biaya pendanaan dengan ekuitas (cost of equity financing) adalah tingkat pengembalian modal yang diharapkan (baik berupa deviden maupun peningkatan harga pasar dan investasi) yang digunakan untuk menarik investor agar mau memberikan modal ekuitas.

Adapun untuk konsep biaya utang itu sendiri ada dua macam, yaitu biaya utang sebelum pajak dan biaya utang setelah pajak. Biaya utang sebelum pajak dapat ditentukan dengan menghitung tingkat hasil internal atas arus kas surat-surat obligasi. Sedangkan untuk biaya utang setelah pajak dapat dihitung dengan mengalikan biaya utang sebelum pajak dengan tingkat pajak marginal. Adapun  besarnya tingkat pajak yang berlaku di Indonesia saat ini menggunakan tarif tetap yaitu 25%.

Biaya hutang adalah tingkat sebelum pajak yang dibayar perusahaan kepada pemberi pinjamannya. Tingkat pajak korporasi penting untuk tujuan WACC karena pembayaran bunga adalah dapat memotong pajak. Biaya hutang dapat di hitung menggunakan rumus (Pradhono dan Yulius (2005):

  Biaya Hutang (Kd)  =

Biaya bunga tahunan

Total hutang jangka panjang

           

Biaya ekuitas adalah pengembalian yang diminta investor untuk membuat investasi ekuitas dalam perusahaan. Setiap investor menginginkan pengembalian yang setinggi mungkin, yang sudah jelas tidak memberikan pedoman kongkrit apapun untuk memperkirakan biaya ekuitas. Model yang paling popular untuk tujuan ini disebut model penetapan harga aktiva modal (capital asset pricing model/CAPM).

            Dengan menggunakan CAPM, biaya ekuitas akan dihitung dengan rumus :

            E (R) = Rf + [ Beta x ( E(Rm) – Rf)]

Dimana E(R) adalah harapan pengembalian dari aktiva berisiko manapun, Rf adalah pengembalian atas suatu aktiva bebas risiko (seperti obligasi pemerintah). Beta adalah pengukuran dari risiko dan E(Rm) adalah harapan pengembalian atas pasar saham.

 

Modal yang Diinvestasikan

Modal yang diinvestasikan merupakan jumlah seluruh keuangan perusahaanterlepas dari kewajiban jangka pendek, pasiva tidak menanggung bunga ( noninterest bearing liabilities) seperti hutang, upah yang akan jatuh tempo (accrued wages), dan pajak yang akan jatuh tempo (accrued taxes). Modal yang diinvestasikan merupakan jumlah ekuitas pemegang saham ditambah dengan hutang jangka pendek dan seluruh hutang jangka panjang.

Modal yang diinvestasikan  = utang jangka pendek + utang jangka panjang + kewajiban jangka panjang lainnya + ekuitas pemegang saham

 

Langkah-langkah menentukan EVA

No.

Langkah

Dalam

Keterangan

1.

Biaya Modal Hutang (Kd)

a.     Biaya Bunga

b.     Jumlah hutang jangka panjang

c.      Suku bunga

d.    Tingkat pajak

e.     Faktor koreksi (1-T)

f.       Biaya modal hutang

 

Rp

Rp

%

%

%

%

 

Lap. L/R

Neraca

(1a) / (1b)

Lap. L/R

1-(1d)

(1e)x(1c)

2.

Biaya Modal Saham (Ke)

a.     Tingkat bunga bebas resiko (Rf)

b.     Ukuran resiko saham perusahaan (b)

c.      Tingkat bunga investasi pasar (Rm)

d.    Biaya modal saham (Ke)

 

%

%

%

%

 

Bunga bank pemerintah

Hasil Perhitungan

Bursa efek

(2a)+[(2b)x{(2c)-(2a)}]

3.

Struktur Modal

a.      Hutang jangka panjang

b.      Modal saham

c.       Jumlah modal

d.     Komposisi hutang jangka panjang

e.      Komposisi modal saham

 

Rp

Rp

Rp

%

%

 

Neraca

Neraca

(3a)+(3b)

(3a)/(3c)

(3b)/(3c)

4.

WACC

a.      Biaya modal rata-rata tertimbang

 

%

 

{(3d)x(1f)}+{(3e)x(2d)}

5.

 EVA

a.      EBT

b.      Beban pajak

c.       EAT

d.      WACC

e.       EVA

 

Rp

Rp

Rp

Rp

Rp

 

Lap. L/R

(1d)x(5a)

(5a)-(5b)

(4a)x(3c)

(5c)-(5d)

 

Adapun perhitungan dari langkah-langkah tersebut diatas adalah:

1.  Menghitung biaya modal hutang (cost of debt = Kd)

Dalam menjalankan operasionalnya suatu perusahaan akan dibiayai dengan modal, dimana modal tersebut berasal dari pihak ketiga. Modal dari pihak ketiga tersebut berupa dana pinjaman baik jangka panjang maupun dana yang diinvestasikan ke dalam perusahaan. Perhitungan biaya modal ini, menghitung beban yang ditanggung oleh perusahaan dalam penggunaan dan pinjaman dari debitur. Dana pinjaman yang dimaksud antara lain sewa guna usaha pinjaman dari bank, obligasi, wesel bayar, hutang jangka panjang yang jatuh tempo dalam satu tahun. Komponen-komponen yang dipakai dalam perhitungan biaya modal hutang adalah jumlah hutang jangka panjang, beban bunga dan pajak yang dibebankan kepada perusahaan. Untuk menghitung biaya modal hutang ini, langkah-langkah yang perlu dilakukan adalah mencari biaya hutang sebelum pajak (Kb) dengan rumus:

 

          Interest exp.

Kb  = ----------------- x 100%

           Total Debt

 

Adapun perhitungan biaya hutang sebelum pajak (Kb)   adalah sebagai berikut :

Perhitungan Biaya Hutang Sebelum Pajak (Kb)

No

Emiten

Thn

D

Interest

Kb

1

PT. X

2013

9,093,518

636,546

0.07

2014

9,681,888

580,913

0.06

2015

10,902,585

545,129

0.05

2

PT. Z

2013

209,066

16725.28

0.08

2014

324,855

22739.85

0.07

2015

382,245

22170.21

0.06

 

Sehingga dari tabel di atas dapat dilihat bahwa hasil perhitungan biaya hutang pada tahun 2013 sampai 2015 adalah 0,05 (5%) sampai 0,08 (8%). Sedangkan untuk tarif pajak perusahaan dalam penelitian ini dihitung dengan cara sebagai berikut:

 

Tax exp.

T  = ----------------- x 100%

             EBIT

Adapun perhitungan tarif pajak (T)  adalah sebagai berikut:

 

Perhitungan Tarif Pajak (T)

No

Emiten

Thn

Pajak penghasilan

EBIT

T

1

PT. X

2013

2,006,045

7,164,445

0.28

2014

1,940,582

7,762,328

0.25

2015

1,587,880

7,939,401

0.20

2

PT. Z

2013

2,741

9,790

0.28

2014

3,544

14,175

0.25

2015

2,550

12,749

0.20

 

Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa hasil perhitungan tarif pajak (T) setiap tahun mengalami perubahan.  Hal ini mungkin dikarenakan adanya penurunan tarif pajak yang ditetapkan oleh Pemerintah. Setelah menghitung tarif pajak, selanjutnya adalah menentukan faktor dalam perhitungan biaya modal hutang setelah pajak, yang diperoleh dengan cara:

 

Kd  = Cost of Debt (Kb) x (1-T)          

Perhitungan Biaya Modal Hutang (Kd )

No

Emiten

Thn

Kb

T

Kd

1

PT. X

2013

0.07

0.28

0.05

2014

0.06

0.25

0.05

2015

0.05

0.20

0.04

2

PT. Z

2013

0.08

0.28

0.06

2014

0.07

0.25

0.05

2015

0.06

0.20

0.05

Berdasarkan tabel diatas, hasil perhitungan biaya modal hutang biaya modal hutang perusahaan tidak banyak mengalami perubahan hanya berkisar pada angka 0,04 % sampai 0,06 %. Setelah menghitung Kd maka selanjutnya akan menghitung Ke.

 

Adapun perhitungan biaya modal saham (Ke) adalah sebagai berikut:

      Dividen

Ke  = ---------------------- x 100%

             Modal Saham

 

Perhitungan Biaya Modal Saham (Ke)

No

Emiten

Thn

Dividen

Modal Saham

Ke

1

PT. X

2013

701

7,630

0.09

2014

336

7,630

0.04

2015

766

7,630

0.10

2

PT. Z

2013

0

590

0

2014

0

590

0

2015

0

590

0

 

Sehingga dari tabel di atas dapat dilihat bahwa hasil perhitungan biaya modal saham (KePT. X adalah 0,04 % sampai 1,10%, sedangkan biaya modal saham PT. Z adalah 0 %  dikarenakan perusahaan tidak membagikan dividen.

Setelah menghitung Kd dan Ke maka selanjutnya akan menghitung WACC.

 

      E                D

WACC  = --- * Ke + --- x Kd *( 1 – T )

                  V                V

 

Perhitungan WACC

No

Emiten

Thn

Ke

Kd

1- T

V = E + D

WACC

1

PT. X

2013

0.09

0.05

0.75

13,348,188

0.05

2014

0.04

0.05

0.75

14,280,670

0.04

2015

0.10

0.04

0.75

15,729,945

0.06

2

PT. Z

2013

0

0.06

0.75

504,865

0.02

2014

0

0.05

0.75

653,224

0.02

2015

0

0.05

0.75

710,614

0.02

 

Berdasarkan tabel diatas, hasil perhitungan biaya modal tertimbang (WACC) perusahaan tidak banyak mengalami perubahan hanya berkisar pada angka 0,02 % sampai 0,06 %.

 

 

 

 

Pada tahap akhir kita akan menghitung EVA perusahaan seperti berikut ini :

 

EVA = NOPAT – WACC x Modal yang diinvestasikan (CC)

NOPAT        = EBIT (1- T)

CC = Total debt + Total Equity

 

Perhitungan EVA

No

Emiten

Thn

EBIT

TARIF PAJAK

NOPAT

WACC

CC

EVA

1

PT. X

2013

7,164,445

28%

5,373,334

0.05

731,901

4,641,433

2014

7,762,328

25%

5,821,746

0.04

565,586

5,256,160

2015

7,939,401

20%

5,954,551

0.06

893,481

5,061,070

2

PT. Z

2013

9,790

28%

7,343

0.02

9,408

(2,065)

2014

14,175

25%

10,631

0.02

12,182

(1,551)

2015

12,749

20%

9,562

0.02

14,334

(4,772)

 

Berdasarkan tabel diatas, hasil perhitungan EVA terlihat PT. X memiliki nilai EVA positif (EVA > 1) maka disimpulkan perusahaan memiliki nilai tambah ekonomis. PT. Z memiliki nilai EVA negatif (EVA < 1) maka disimpulkan perusahaan tidak memiliki nilai tambah ekonomis.

 

Perusahaan yang memliki nilai tambah ekonomis positif mnunjukkan perusahaan teah berhasil menciptakan nilai tambah bagi pemegang saham. Kondisi ini tentu akan berdampak positif bagi pekembangan nilai perusaan dan harga saham yang akan mengalami peningkatan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar