Part -3 Perbandingan IFRS dan PSAK
Desain
IFRS diperuntukkan untuk entitas yang bersifat profit oriented SME (small
medium enterprise). IFRS belum mengatur standar akuntansi untuk perusahaan
berbasis syariah. Sedangkan SAK diperuntukkan bagi entitas yang bersifat profit
oriented, nirlaba, UKM (Usaha Kecil Menengah) yang disebut SAK ETAP, dan
perusahaan berbasis syariah. Berikut ini merupakan perbandingan antara IFRS dan
PSAK:
a. Kerangka Dasar
IFRS: memungkinkan penilaian
aktiva berwujud dan tidak berwujud menggunakan nilai wajar. laporan keuangan
harus disajikan dengan basis true and fair (IFRS framework).
Sedangkan SAK: sama seperti IFRS, PSAK memberikan alternatif penggunaan nilai
wajar untuk menilai kembali aktiva tetap berwujud dan tidak berwujud. Laporan
keuangan disajikan dengan fairly stated (kerangka dasar par.46).
b. Pernyataan
Kepatuhan akan Standar
IFRS: entitas harus membuat
pernyataan eksplisit tentang kepatuhan akan standar IFRS. Sedangkan SAK: entitas tidak harus membuat pernyataan kepatuhan
akan SAK.
c. Prinsip
Ketetpatan Waktu (timeliness)
IFRS:
Tidak diatur secara khusus kapan entitas menyajikan laporan keuangan. Sedangkan
SAK: Dianjurkan agar entitas menyajikan laporan keuangan paling lama 4 bulan
setelah tanggal neraca.
d.
Basis Standar
IFRS:
menganut standar akuntansi berbasis prinsip untuk meningkatkan transparansi,
akuntabilitas, dan keterbandingan laporan keuangan antar entitas secara global.
Sedangkan SAK: menganut standar akuntansi berbasis aturan.
e.
Prinsip Konservatif
IFRS:
tidak lagi mengakui prinsip konservatif namun diganti dengan prinsip
kehati-hatian (prudence). Sedangkan SAK: masih mengakui prinsip konservatif.
Jenis – Jenis Laporan Keuangan
Ada
banyak laporan keuangan yang dikeluarkan perusahaan, tetapi yang umum digunakan
adalah : (1) Laporan Laba Rugi, (2) Neraca, (3) Laporan Perubahan Laba Ditahan,
dan (4) Laporan Arus Kas. Berikut adalah penjelasan keempat laporan keuangan
tersebut beserta contohnya:
Laporan Laba Rugi
Laporan
Laba Rugi merupakan laporan/ringkasan kegiatan operasi perusahaan selama satu
periode, umumnya adalah satu tahun dan berakhir 31 Desember xx. Untuk
kepentingan terbatas, misalnya pada perusahaan public, perusahaan dapat
mengeluarkan laporan untuk 3 bulan, 6 bulan atau 9 bulan
Tabel
2-1 adalah laporan Laba Rugi PT Alpha Products untuk tahun 2003 dan 2002. Tahun
2003, penerimaan penjualan (Sales Revenue) adalah $6.000.000.000. Laba Kotor (Gross Profit) $2.400.000.000 diperoleh
dari penjualan dikurangi harga pokok penjualan (cost of goods sold) dan merupakan jumlah yang digunakan untuk
menutup biaya operasi, biaya financial dan pajak. Laba Operasi (Operating Profit) $ 567,500.000
diperoleh setelah laba Kotor dikurangi Biaya Operasi, berarti perusahaan sudah
membayar biaya produksi dan biaya penjualan produk. Laba Operasi sering disebut
Earning/Net Profit Before Interest and Taxes (EBIT) karena digunakan untuk
membayar Biaya financial –yaitu pembayaran bunga pinjaman- dan membayar pajak.
Laba operasi dikurangi pembayaran bunga diperoleh Laba sebelum Pajak –Earning Before tax/EBT, besarnya
$391,600,000. Laba Bersih (Earning/Net
Profit After Tax=EAT) $235.000.000 didapat setelah Laba sebelum pajak
dikurangi pajak.
Laba
bersih inilah yang menjadi hak/milik pemegang saham. Pembayaran dividen kepada
pemegang saham preferen sebesar $8.000.000, menyisakan laba yang menjadi hak
pemegang saham biasa, sebesar $227.000.000. Jika jumlah saham beredar 50 juta
lembar, maka Laba per Lembar saham (Earning
per Share –EPS) adalah $4,54.
|
Tabel 2-1 |
Alpha Products income Statement, for
the years ending Dec 31, 2003 & 2002 ($millions) |
||
|
2003 |
2002 |
||
|
Net Sales |
$6,000.0 |
$5,700.0 |
|
|
Less: Cost of Goods Sold |
$3,600.0 |
$3,534.0 |
|
|
Gross Profit |
$2,400.0 |
$2,166.0 |
|
|
Less :Operating Expenses |
$1,832.4 |
$1,640.0 |
|
|
Operating Profit (EBIT) |
$567.6 |
$526.0 |
|
|
Less: Interest |
$176.0 |
$120.0 |
|
|
Net Profit Before Taxes |
$391.6 |
$406.0 |
|
|
Less: Taxes(40%) |
$156.6 |
$162.4 |
|
|
Net Profit After Taxes |
$235.0 |
$243.6 |
|
|
Less Preferred Stock Dividend |
$8.0 |
$8.0 |
|
|
Earning available for commonstockholders |
$227.0 |
$235.6 |
|
|
Earning per Share (50,000,000 shares) |
$4.54 |
$4.71 |
|
|
Dividend per Share |
$2.30 |
$2.12 |
|
Neraca
Neraca merupakan ringkasan posisi kekayaan perusahaan
pada saat tertentu. Neraca berisi asset/kekayaan yang dimiliki perusahaan dan
sumber dana untuk membiayai asset tersebut, yang berasal dari pihak di luar
perusahaan (disebut kewajiban/ liabilities) dan dari pemegang saham perusahaan
(disebut modal/equity).
Aset
terdiri dari current assets dan fixed assets. Pos-pos dalam current
asset diharapkan dapat dicairkan menjadi kas dalam satu tahun. Liabilities
terdiri dari current liabilities dan long term liabilities. Pos-pos
dalam current liabilities diharapkan dapat dibayar/jatuh tempo dalam
satu tahun. Fixed assets dan long term liabilities tetap berada
dalam perusahaan untuk lebih dari satu tahun. Modal adalah sumber dana yang
berasal dari pemilik perusahaan/pemegang saham dan memiliki umur tidak
terbatas.
Laporan Perubahan Modal
Laporan
Perubahan modal menunjukkan laba yang diperoleh perusahaan dan dividen yang
dibayarkan selama satu periode sehingga menyebabkan perubahan modal perusahaan.
Tabel 2-3 adalah Laporan Perubahan Modal Alpha Products tahun 2003. Laba tahun
berjalan sebesar $ 235 (juta) menambah saldo Laba Ditahan awal tahun.
Pembayaran dividen saham preferen $8 (juta) dan saham biasa $115 (juta)
mengurangi saldo Laba Ditahan. Pada akhir tahun, saldo Laba Ditahan menjadi $
1,532 (juta).
|
Tabel 2-3 : |
Alpha Products Statement of Retained
Earning, Dec 31, 2003 ($millions) |
|||
|
|
||||
|
Retained Earning Balance (Jan 1, 03) |
$1,420 |
|||
|
Plus: Net Profit After Taxes |
(for 2003) |
$235 |
||
|
Less Cash Dividend : |
||||
|
Preferred Stock |
$8 |
|||
|
Common Stock |
$115 |
|||
|
Total Dividend Paid |
($123) |
|||
|
Retained Earning Balance (Dec 31, 03) |
$1,532 |
|||
Laporan Arus Kas
Laporan
Arus Kas merupakan ringkasan arus kas selama satu periode. Laporan ini
menunjukkan perubahan arus kas yang terjadi karena kegiatan operasi, investasi
dan financial sehingga posisi/saldo kas berubah.
Tabel
2-4 adalah Laporan Arus Kas Alpha Products tahun 2003. Pada tahun berjalan
perusahaan menghasilkan kas dari kegiatan operasi sebesar ($5 juta). Kas yang
berasal dari kegiatan investasi ($ 460 juta) dan kas yang berasal dari kegiatan
financing/ pendanaan sebesar $325 juta. Dari sini terlihat bahwa perusahaan
banyak menggunakan kas sehingga terjadi penurunan kas (nilai kas minus).
Kegiatan financing yang ada tidak mencukupi dan tidak dapat menutup kebutuhan
kas sehingga terjadi penurunan kas (net
decrease in cash and marketable securities).
|
Tabel 2-4 : |
Alpha Products Statement of Cash
Flows for 2003 ($millions) |
|
|
Operating Activities : |
||
|
Net Income |
$235 |
|
|
Additions (Sources of Cash) |
||
|
Depreciation |
$200 |
|
|
Increase in Account
Payables |
$60 |
|
|
Increase in Accruals |
$20 |
|
|
Subtractions (uses of Cash) |
||
|
Increase in Account
Receivables |
($120) |
|
|
Increase in Inventories |
($400) |
|
|
Net Cash Provided by
Operating Activities |
($5) |
|
|
Investment Activities : |
||
|
Cash used to acquired fixed
assets |
($460) |
|
|
Financing Activities : |
||
|
Increase in Notes Payable |
$100 |
|
|
Increase in Bonds |
$348 |
|
|
Dividend Payment |
($123) |
|
|
Net Cash Provided by Financing Activities |
$325 |
|
|
Net Decrease in cash and marketable securities |
($140) |
|
Laporan
Laba Rugi Komperhensif
Laporan rugi laba adalah laporan yang
menunjukkan kinerja atau prestasi operasi perusahaan selama satu periode
operasi. Laporan rugi laba digunakan oleh pengguna untuk:
1. Mengevaluasi
kinerja/prestasi periode lalu suatu entitas dan membandingkannya dengan kinerja
perusahaan lain yang sejenis.
2. Laporan
rugi laba dapat digunakan sebagai dasar memprediksi kinerja perusahaan di masa
yang akan dating.
3. Menaksir
risiko dan ketidakpastian pencapaian arus kas masa depan. Dengan informasi
tentang pendapatan dan biaya pengguna dapat mnaksir risiko ketidaktercapaian
arus kas masa depan perusahaan.
Walaupun
manfaat yang diberikan laporan rugi laba cukup banyak, namun pengguna harus
menyadari bahwa beberapa pos dalam laporan
laba-rugi disusun berdasarkan asumsi dan estimasi. Beberapa kelemahan
lain adalah:
1. Suatu
peristiwa atau transaksi yang tidak bisa diukur dengan andal tidak akan
dilaporkan dalam laporan rugi laba meskipun mungkin mempengaruhi operasi
perusahaan.
2.
Jumlah laba atau penghasilan sangat
dipengaruhi oleh metode akuntansi yang digunakan.
3.
Pengukuran laba/penghasilan banyak melibatkan
pertimbangan.
Laporan
rugi laba sering digunakan sebagai dasar untuk mengevaluasi kinerja/prestasi
perusahaan atau prestasi manajernya. Informasi laba atau rugi dalam laporan ini
juga bisa mempengaruhi harga saham perusahaan yang tercatat di bursa efek. Agar
prestasi suatu perusahaan atau manajernya tampak baik, maka sering terdapat
dorongan atau motivasi untuk menyesuaikan laba agar sesuai atau melebihi target
atau membuat laba terlihat kurang berisiko. Perilaku ini membuat kualitas
informasi dalam laporan rugi laba menjadi berkurang keandalannya. Tindakan ini
disebut Manajemen laba (Earnings Management), yaitu merencanakan
pengakuan pendapatan, biaya, keuntungan atau kerugian dengan maksud meratakan
laba. Tindakan ini dilakukan dengan meningkatkan pendapatan dengan mengakui
pendapatan masa yang akan dating pada periode sekarang atau menunda pengakuan
pendapatan periode ini untuk diakui di periode yang akan dating. Tindakan yang
serupa dapat dilakukan untuk akun-akun biaya, keuntungan dan kerugian. Manajemen
laba sering juga disebut Perataan laba (Income Smoothing).
BENTUK LAPORAN RUGI
LABA
ELEMEN-ELEMEN
LAPORAN RUGI LABA
Penghasilan
(laba) neto entitas dihasilkan dari transaksi-transaksi pendapatan, biaya,
keuntungan atau kerugian. Seluruh
transaksi-transaksi yang berhubungan dengan pos-pos tersebut diiktisarkan dalam
laporan rugi laba. Defenisi masing-masing elemen laporan rugi laba adalah:
1. Pendapatan (Revenue): Arus masuk aktiva atau peningkatan lainnya
dari aktiva atau pelunasan
hutang (atau kombinasi dari keduanya)
selama suatu periode, yang berasal dari
penyerahan barang atau menghasilkan barang, penyerahan jasa, atau aktivitas lainnya
yang merupakan operasi utama atau operasi pusat yang berlanjut dari suatu
entitas.
2. Biaya (Expenses): Arus keluar atau penggunaan lainnya dari
aktiva atau keterjadian kewajiban (atau kombinasi keduanya) selama suatu
periode dari penyerahan atau produksi barang, penyerahan jasa, atau melakukan
aktivitas lainnya yang merupakan operasi
utama atau operasi pusat yang berlanjut suatu entitas.
3. Untung (Gains): Peningkatan dalam ekuitas (aktiva neto) yang
berasal dari aktivitas incidental (kadang-kadang) atau tambahan
(peripheral) suatu entitas dan dari seluruh transaksi lainnya dan peristiwa
lainnya dan keadaan yang mempengaruhi entitas selama suatu periode kecuali yang dihasilkan dari pendapatan atau
investasi pemilik.
4. Rugi (Losses): Penurunan dalam ekuitas (aktiva neto) dari
aktivitas incidental (kadang-kadang) atau aktivitas tambahan (peripheral)
suatu entitas dan dari seluruh transaksi dan peristiwa lainnya dan keadaan yang
mempengaruhi entitas selama suatu periode kecuali yang dihasilkan dari biaya
atau distribusi kepada pemilik.
FORMAT
LAPORAN RUGI LABA
PENDEKATAN
LAPORAN RUGI LABA LANGKAH TUNGGAL (SINGLE-STEP INCOME STATEMENT)
Pelaporan
rugi laba dengan menggunakan pendekatan ini dilakukan dengan menyatukan semua
sumber pendapatan atas dua bagian, pendapatan dan biaya. Seluruh pendapatan
yang berasal dari operasi ataupun non operasi disatukan pelaporannya dan
seluruh biaya juga disatukan baik yang bersumber dari operasi maupun dari non
operasi. Bentuk laporan laba-rugi dengan menggunakan pendekatan ini adalah:

Bentuk
ini merupakan bentuk sederhana dari laporan rugi laba. Penggunaan pendekatan
ini untuk menghindari kesalahan pengklasifikasian item-item pendapatan dan
biaya. Pendekatan ini jarang digunakan untuk laporan rugi laba yang
diperuntukkan bagi pengguna diluar perusahaan (kreditur, investor,
pemerintah,dll). Bentuk laporan laba rugi ini juga hanya dapat diterapkan pada
perusahaan – perusahaan berskala kcil saja.
Dengan
pendekatan ini, laporan laba-rugi disusun dengan memisahkan pendapatan yang
diperoleh dari operasi, biaya-biaya operasi, pendapatan-pendapatan non operasi,
dan biaya-biaya non operasi. Pembagian ini membuat laporan rugi laba lebih
bermanfaat bagi pengguna. Pengklasifikasian pendapatan dan biaya didasarkan
kepada jenis perusahaan dan fungsi-fungsi yang terlibat dalam perusahaan.
Pengklasifikasian
yang biasa dilakukan untuk perusahaan manufaktur dan industri adalah:
1. Bagian
operasi, yaitu bagian yang melaporkan pendapatan dan biaya yang terjadi dari
operasi utama usaha:
·
Penjualan atau bagian
pendapatan operasi.
Bagian ini menunjukkan pendapatan, diskun penjualan, penyisihan penjualan,
pengembalian penjualan (retur) dan informasi lainnya yang berkaitan dengan
pendapatan operasi. Setiap subseksi itu
dijumlahkan untuk memperoleh penjualan neto.
·
Kos dari Barang Terjual (Cost of Goods Sold), yaitu yang menunjukkan jumlah kos dari barang yang
dijual pada periode tersebut.
·
Biaya Penjualan (Selling Expenses), yaitu yang meunjukkan daftar biaya-biaya yang
dikeluarkan untuk menghasilkan penjualan, misalnya biaya promosi, gaji bagian
penjualan,dll.
·
Biaya Administrasi dan Umum (Administrative or
General Expenses), yaitu yang melaporkan biaya-biaya administrasi atau
biaya umum.
2. Bagian
Non Operasi, yaitu laporan pendapatan dan biaya yang dihasilkan dari aktivitas
tambahan atau bukan utama perusahaan. Keuntungan atau kerugian yang jarang
terjadi atau yang tidak biasa umumnya dilaporkan di bagian ini. Bagian ini
dibai atas dua bagian:
·
Pendapatan lainnya
dan keuntungan,
yaitu suatu daftar pendapatan yang diperoleh atau keuntungan yang terjadi dari
trnsaksi diluar operasi (non operasi).
·
Biaya Lainnya dan
kerugian, yaitu
suatu daftar biaya atau kerugian yang berasal dari transaksi diluar operasi
(non operasi).
3. Pajak
Penghasilan, yaitu pajak penghasilan badan yang dikutip oleh Pmerintah dari
operasi yang berlanjut.
4. Operasi-operasi
tidak berlanjut (Discontinued operations),
yaitu keuntungan atau kerugian yang material yang dihasilkan dari penjualan
suatu segmen usaha
5. Pos-pos
yang tidak biasa (Extraordinary Items)
yaitu keuntungan atau kerugian yang tidak biasa dan jarang terjadi
6. Pengaruh
kumulatif dari perubahan dalam Prinsip-Prinsip Akuntansi, yaitu pengaruh
perubahan prinsip akuntansi yang telah digunakan beberapa period eke prinsip
kuntansi yang baru.
7. Laba
per saham (Earnings per share).
Contoh laporan rugi laba
yang disajikan menggunakan bentuk multiple
step adalah:
Transaksi-transaksi
yang jarang terjadi dapat dibagi atas beberapa kategori:
1. Operasi-operasi
yang tidak berlanjut (Discontinued
operations);
Operasi-operasi
yang tidak berlanjut terjadi karena terjadinya arus kas negatif atau rugi yang terus menerus dari salah satu segmen
bisnis sehingga segmen atau divisi itu harus dihentikan atau dijual. Setelah
segmen bisnis dilepas, maka tidak ada keterlibatan perusahaan induk pada segmen
atau divisi itu. Keuntungan atau Kerugian yang disebabkan operasi yang tidak
berlanjut dilaporkan di laporan rugi laba
setelah bagian “Laba dari operasi
berlanjut” namun sebelum pos-pos
luar biasa.
2. Pos-pos
luar biasa (Extraordinary Items) merupakan pos-pos yang
jumlahnya relatif besar (material) namun
bukan peristiwa yang berulang dan peristiwa itu sangat jauh menyimpang dari
aktivitas utama perusahaan dan tidak bisa diramalkan (diprediksi) terjadi.
Misalnya: kerugian karena terjadi bencana alam.
Suatu pos dikatakan extraordinary apabila
kedua kriteria berikut dipenuhi:
·
Sifatnya tidak biasa;
·
Sangat jarang terjadi atau jarang sekali
berulang
3. Keuntungan-keuntungan dan
kerugian-kerugian yang tidak biasa (Unusual Gains and Losses), misalnya:
penghapusan piutang usaha, penghapusan persediaan, keuntungan atau kerugian
karena fluktuasi kurs,keuntungan atau kerugian karena harga kontrak, keuntungan
atau kerugian dari penjualan aktiva tetap;
4. Perubahan-perubahan
dalam prinsip Akuntansi, misalnya perubahan dari penggunaan metode LIFO menuju
FIFO dalam akuntansi persediaan, atau perubahan metode penyusutan aktiva tetap.
5. Perubahan-perubahan
dalam estimasi akuntansi, misalnya perubahan umur ekonomis aktiva tetap.
Terdapat
tiga cara pelaporan pos-pos yang tidak teratur:
1. Pendekatan
memasukkan seluruh pos-pos tidak teratur (All-
Inclusive approach); yaitu memasukkan seluruh pos-pos yang tidak teratur yang
terjadi pada periode itu ke laporan laba-rugi. Kesalahan-kesalahan
pengukuran atau pelaporan laba dan perubahan-perubahan estimasi dan pemakaian
metode akuntansi pada periode yang lalu tidak dimasukkan dalam laporan
laba-rugi periode ini, namun disesuaikan ke laba ditahan.
2. Pendekatan
kinerja operasi periode berjalan (Current
operating performance approach); Dengan menggunakan pendekatan ini, laporan
rugi laba hanya berisi informasi pendapatan dan biaya dari operasi yang
teratur. Pendapatan dan biaya yang diperoleh secara tidak teratur tidak
dicantumkan dalam laporan rugi laba namun dalam laporan perubahan ekuitas
3. Pendekatan
memodifikasi all-inclusive concept;
Pendekatan
ini hampir sama dengan pendekatan all-inclusive
concept, namun untuk pos-pos yang
tidak teratur harus tampak jelas (highlighted)
di laporan keuangan sehingga pengguna laporan keuangan dapat menilai dengan
jelas kemampuan perusahaan mencapai laba
di masa depan. Pendekatan ini juga memasukkan pengaruh kumulatif perubahan
prinsip akuntansi periode-periode sebelumnya ke laporan laba-rugi periode
sekarang. Pendekatan ini sekarang banyak digunakan dalam praktik.
NERACA (LAPORAN POSISI KEUANGAN )
Neraca merupakan salah satu laporan keuangan pokok yang
sering juga disebut sebagai Laporan Posisi
Keuangan atau Laporan Aktiva, Kewajiban dan Ekuitas Pemegang Saham suatu
perusahaan bisnis pada suatu tanggal tertentu.
Dengan memberikan informasi tentang aktiva,
kewajiban/hutang dan ekuitas pemegang saham maka neraca memberikan dasar untuik:
1.
Penghitungan rates of return dan pengevaluasian struktur modal perusahaan
2.
Menaksir risiko perusahaan dan arus kas masa
depan dengan menghitung rasio-rasio likuiditas, solvensi dan fleksibilitas
keuangan.
3.
Menaksir kesulitan keuangan perusahaan.
Neraca dapat digunakan untuk menaksir kebangkrutan perusahaan. Salah satu model
prediksi kebangkrutan perusahaan adalah model yang dikembangkan oleh Altman
(1993) yang mengembangkan ukuran Z Score, yaitu kombinasi ukuran neraca dan
laporan rugi laba untuk memprediksi kebangkrutan perusahaan. Rumus yang
dikembangkannya adalah:
|
Z |
= |
Modal
kerja |
x 1,2+ |
laba
ditahan |
x1,4+ |
EBIT |
x3,3+ |
Penjualan |
x0,99+ |
Nilai
Pasar Ekuitas |
x0,60 |
|
aktiva
total |
Aktiva
Total |
Aset
Total |
Aktiva
Total |
Kewajiban
Total |
Altman menemukan
bahwa perusahaan yang memiliki nilai skor Z diatas 1.81 cenderung tidak akan bangkrut sedangkan skor Z
dibawah 1.81 cenderung akan bangkrut.
1.
Hampir seluruhnya aktiva dan hutang
(kewajiban) disajikan pada Kos
Historikal (kos berdasarkan bukti
transaksi) . Akibatnya pos-pos
aktiva dan neraca sangat tinggi keandalannya, namun tidak mencerminkan nilai saat ini ( Kos sekarang/ Current Cost) dari aktiva
dan kewajiban.
2.
Dalam penyajian pos-pos di neraca, banyak
melibatkan pertimbangan (Judgement)
dan estimasi akuntansi.
3.
Banyak pos-pos yang memiliki kontribusi ke
perusahaan diabaikan dan tidak dicatat di neraca (misalnya kos sumberdaya
manusia).
KLASIFIKASI
DALAM NERACA
Akun-akun riil (permanent) harus diklasifikasikan di
Neraca. Pemisahan dilakukan antara akun-akun aktiva dan akun-akun kewajiban dan
ekuitas pemegang saham. Pemisahan ini dilakukan untuk memudahkan menganalisa
sumberdaya yang dimiliki perusahaan dan struktur modal. Untuk setiap kelompok
aktiva, kewajiban dan ekuitas, pemisahan juga dilakukan untuk setiap akun yang
memiliki karakteristik yang mirip dan memiliki pengaruh yang berbeda terhadap
fleksibilitas dan likuiditas keuangan perusahaan. Klasifikasi dalam Neraca
dapat digambarkan sebagai berikut:
|
ASSETS |
LIABILITIES |
|||
|
Current Assets |
Current Liabilities |
|||
|
|
Cash
& Cash Equivalent Short
term investment |
|
Account
Payable Unearned
Revenue |
|
|
|
Account
Receivable |
|
Accrued
Expense |
|
|
|
Accrued
Revenue |
|
Current
Maturities of long term Liabilities |
|
|
|
Inventories |
|
|
|
|
|
Prepaid
Expenses |
Long Term Liabilities |
||
|
Long Term Investment |
|
Bond
Payable |
||
|
Fixed Assets |
|
Mortgage
Payable |
||
|
|
Building |
|
Long
term Notes Payable |
|
|
|
Accumulated
Depreciation of Buildings |
STOCKHOLDERS’
EQUITY |
||
|
Intangible Assets |
|
Capital
Stock |
||
|
|
Patent,
Copyright,etc |
|
Additional
Paid-in Capital |
|
|
Other Assets |
|
Retained
Earnings |
||
Penjelasan Pos-pos Neraca:
1. Current
Assets (Aktiva-aktiva Lancar), yaitu aktiva yang akan dikonversi menjadi kas, dijual atau
dikonsumsi dalam satu tahun atau satu siklus operasi, mana yang lebih panjang.
Aktiva lancar disajikan atau diurutkan di neraca berdasarkan likuiditas. Jika
suatu asset dapat dikonversi menjadi kas atau akan digunakan untuk membayar
hutang lancar dalam waktu satu tahun atau satu siklus operasi, mana yang lebih
panjang, dikategorikan sebagai aktiva lancar.
2. Long
Term Investment (Investasi Jangka Panjang), yaitu
investasi dalam sekuritas jangka panjang, investasi dalam aktiva tetap yang
tidak digunakan dalam operasi, investasi dalam dana-dana khusus, dan investasi
dalam anak perusahaan yang tidak dikonsolidasi atau perusahaan afiliasi. Investasi jangka panjang merupakan investasi
yang dimaksudkan untuk tidak dikonversi atau dijual dalam beberapa tahun
3. Fixed
Assets (Aktiva Tetap), yaitu aktiva yang
diperoleh perusahaan untuk dipakai dalam operasi normal perusahaan dan memiliki
umur ekonomis jangka panjang (lebih dari satu tahun). Aktiva tetap biasanya
disajiakn bersma dengan akun kontra (Contra
Account) Akumulasi Penyusutan (Accumulated
Depreciation).
4. Intangible
Assets (Aktiva-Aktiva Tak Berujud), yaitu
aktiva yang tidak atau kurang memiliki substansi fisik dan bukan merupakan instrument keuangan. Dalam jangka panjang, aktiva berujud
diharapkan dapat menambah arus kas masuk melalui peningkatan pendapatan pada
perusahaan. Contoh dari aktiva ini adalah: Paten, Goodwill, hak cipta (Copyright).
5. Other
Assets (Aktiva-aktiva Lainnya), yaitu
aktiva-aktiva yang tidak dapat dikategorikan pada aktiva-aktiva yang lain.
6. Current
Liabilities ( Hutang-hutang lancar), yaitu hutang
yang akan dilunasi dalam jangka waktu satu tahun atau satu siklus operasi, mana
yang lebih panjang. Hutang lancar diharapkan akan dibayar dengan menggunakan
aktiva lancar. Termasuk dalam kategori hutang lancar adalah: hutang dagang (Account Payable), Biaya yang masih
terhutang (Accrued Expense), Pendapatan
diterima dimuka (Unearned Revenue)
dan hutang jangka panjang yang akan jatuh tempo dalam satu tahun (Current Maturities o Long Term Liabilities).
Hutang Lancar diurutkan berdasarkan urutan jatuh tempo dari hutang.
7. Long-
Term Liabilities (Hutang Jangka Panjang), yaitu hutang
yang tidak akan dilunasi dalam siklus operasi atau satu tahun. Hutang ini jatuh tempo pada suatu tanggal beberapa tahun
kemudian. Contoh jenis hutang ini adalah hutang obligasi (Bond Payable)
8. Stockholder’s
Equity (Ekuitas Pemegang Saham), sering juga
disebut sebagai aktiva neto (Net asset), yaitu
sisa aktiva setelah dikurangi seluruh kewajiban kepada kreditur apabila
diasumsikan perusahaan dilikuidasi. Termasuk dalam kelompok ini adalah: modal
saham (saham biasa atau saham preferen), tambahan modal disetor (Paid in Capital), dan laba ditahan (Retained Earnings).
Contoh Laporan Posisi Keuangan (Neraca) versi IFRS







Soal Latihan:
Berikut ini merupakan data yang
disarikan dari neraca saldo PT. MAHKOTA
Sukses untuk periode yang berakhir 31 desember 2017. Seluruh data dalam ribuan (000). Susunlah
laporan rugi laba dalam format langkah ganda (multiple step) serta sajikan juga neraca. Asumsikan: Persediaan
akhir barang dagang Rp. 370.000 dan pajak 30%.
|
Cash
and bank |
Rp
205.000 |
Retained
earnings |
Rp1.016.480 |
|
Short
term investment |
Rp
115.000 |
Sales |
Rp6.700.000 |
|
Account
Receivable |
Rp
456.000 |
Sales
return and allowance |
Rp
25.000 |
|
Allowance
for doubtful account |
Rp
9.120 |
Sales
discount |
Rp
67.000 |
|
Prepaid
insurance |
Rp
123.000 |
Purchase |
Rp2.300.000 |
|
Merchadise
inventory |
Rp
478.000 |
Purchase
discount |
Rp
25.000 |
|
Long
term investment |
Rp1.250.000 |
Purchase
return and allowance |
Rp
6.700 |
|
Land |
Rp2.300.000 |
Freight
in |
Rp
7.800 |
|
Building |
Rp5.600.000 |
Sales
commisions expense |
Rp
56.000 |
|
Accumulated
depreciation of buildings |
Rp
280.000 |
Travel
and entertainment expense |
Rp
90.000 |
|
Other
assets |
Rp
120.000 |
Accounting
and legal services |
Rp
120.000 |
|
Account
payable |
Rp
450.000 |
Insurance
expense |
Rp
34.000 |
|
Tax
Payable |
Rp
97.000 |
Supplies
Expense |
Rp
46.000 |
|
Interest
payable |
Rp
123.700 |
Bad
debt expense |
Rp
6.700 |
|
Current
maturities of long term debt |
Rp
25.000 |
Advertising
expense |
Rp
267.000 |
|
Bond
payable |
Rp
231.000 |
Depreciation
expense |
Rp
4.500 |
|
Notes
payable |
Rp
200.000 |
Telephone-sales
expense |
Rp
132.000 |
|
Common
stock |
Rp4.500.000 |
Rental
revenue |
Rp
224.000 |
|
Additional
paid in Capital |
Rp
565.000 |
Extraordinary
loss |
Rp
560.000 |
|
Interest
expense |
Rp
90.000 |

Tidak ada komentar:
Posting Komentar