Rabu, 11 November 2020

 

Part -3 Perbandingan IFRS dan PSAK

Desain IFRS diperuntukkan untuk entitas yang bersifat profit oriented SME (small medium enterprise). IFRS belum mengatur standar akuntansi untuk perusahaan berbasis syariah. Sedangkan SAK diperuntukkan bagi entitas yang bersifat profit oriented, nirlaba, UKM (Usaha Kecil Menengah) yang disebut SAK ETAP, dan perusahaan berbasis syariah. Berikut ini merupakan perbandingan antara IFRS dan PSAK:

a. Kerangka Dasar

IFRS: memungkinkan penilaian aktiva berwujud dan tidak berwujud menggunakan nilai wajar. laporan keuangan harus disajikan dengan basis true and fair (IFRS framework). Sedangkan SAK: sama seperti IFRS, PSAK memberikan alternatif penggunaan nilai wajar untuk menilai kembali aktiva tetap berwujud dan tidak berwujud. Laporan keuangan disajikan dengan fairly stated (kerangka dasar par.46).

 

b. Pernyataan Kepatuhan akan Standar

IFRS: entitas harus membuat pernyataan eksplisit tentang kepatuhan akan standar IFRS. Sedangkan SAK: entitas tidak harus membuat pernyataan kepatuhan akan SAK.

 

c. Prinsip Ketetpatan Waktu (timeliness)

IFRS: Tidak diatur secara khusus kapan entitas menyajikan laporan keuangan. Sedangkan SAK: Dianjurkan agar entitas menyajikan laporan keuangan paling lama 4 bulan setelah tanggal neraca.

 

d. Basis Standar

IFRS: menganut standar akuntansi berbasis prinsip untuk meningkatkan transparansi, akuntabilitas, dan keterbandingan laporan keuangan antar entitas secara global. Sedangkan SAK: menganut standar akuntansi berbasis aturan.

 

e. Prinsip Konservatif

IFRS: tidak lagi mengakui prinsip konservatif namun diganti dengan prinsip kehati-hatian (prudence). Sedangkan SAK: masih mengakui prinsip konservatif.

 

Jenis – Jenis Laporan Keuangan

Ada banyak laporan keuangan yang dikeluarkan perusahaan, tetapi yang umum digunakan adalah : (1) Laporan Laba Rugi, (2) Neraca, (3) Laporan Perubahan Laba Ditahan, dan (4) Laporan Arus Kas. Berikut adalah penjelasan keempat laporan keuangan tersebut beserta contohnya:

 

Laporan Laba Rugi

Laporan Laba Rugi merupakan laporan/ringkasan kegiatan operasi perusahaan selama satu periode, umumnya adalah satu tahun dan berakhir 31 Desember xx. Untuk kepentingan terbatas, misalnya pada perusahaan public, perusahaan dapat mengeluarkan laporan untuk 3 bulan, 6 bulan atau 9 bulan

Tabel 2-1 adalah laporan Laba Rugi PT Alpha Products untuk tahun 2003 dan 2002. Tahun 2003, penerimaan penjualan (Sales Revenue) adalah $6.000.000.000. Laba Kotor (Gross Profit) $2.400.000.000 diperoleh dari penjualan dikurangi harga pokok penjualan (cost of goods sold) dan merupakan jumlah yang digunakan untuk menutup biaya operasi, biaya financial dan pajak. Laba Operasi (Operating Profit) $ 567,500.000 diperoleh setelah laba Kotor dikurangi Biaya Operasi, berarti perusahaan sudah membayar biaya produksi dan biaya penjualan produk. Laba Operasi sering disebut Earning/Net Profit Before Interest and Taxes (EBIT) karena digunakan untuk membayar Biaya financial –yaitu pembayaran bunga pinjaman- dan membayar pajak. Laba operasi dikurangi pembayaran bunga diperoleh Laba sebelum Pajak –Earning Before tax/EBT, besarnya $391,600,000. Laba Bersih (Earning/Net Profit After Tax=EAT) $235.000.000 didapat setelah Laba sebelum pajak dikurangi pajak.

Laba bersih inilah yang menjadi hak/milik pemegang saham. Pembayaran dividen kepada pemegang saham preferen sebesar $8.000.000, menyisakan laba yang menjadi hak pemegang saham biasa, sebesar $227.000.000. Jika jumlah saham beredar 50 juta lembar, maka Laba per Lembar saham (Earning per Share –EPS) adalah $4,54.

 

Tabel 2-1

Alpha Products income Statement, for the years ending Dec 31, 2003 & 2002 ($millions)

2003

2002

Net Sales

$6,000.0

$5,700.0

Less: Cost of Goods Sold

$3,600.0

$3,534.0

Gross Profit

$2,400.0

$2,166.0

Less :Operating Expenses

$1,832.4

$1,640.0

Operating Profit (EBIT)

$567.6

$526.0

Less: Interest

$176.0

$120.0

Net Profit Before Taxes

$391.6

$406.0

Less: Taxes(40%)

$156.6

$162.4

Net Profit After Taxes

$235.0

$243.6

Less Preferred Stock Dividend

$8.0

$8.0

Earning available for commonstockholders

$227.0

$235.6

Earning per Share (50,000,000 shares)

$4.54

$4.71

Dividend per Share

                               $2.30

                           $2.12

 

Neraca

Neraca merupakan ringkasan posisi kekayaan perusahaan pada saat tertentu. Neraca berisi asset/kekayaan yang dimiliki perusahaan dan sumber dana untuk membiayai asset tersebut, yang berasal dari pihak di luar perusahaan (disebut kewajiban/ liabilities) dan dari pemegang saham perusahaan (disebut modal/equity).

Aset terdiri dari current assets dan fixed assets. Pos-pos dalam current asset diharapkan dapat dicairkan menjadi kas dalam satu tahun. Liabilities terdiri dari current liabilities dan long term liabilities. Pos-pos dalam current liabilities diharapkan dapat dibayar/jatuh tempo dalam satu tahun. Fixed assets dan long term liabilities tetap berada dalam perusahaan untuk lebih dari satu tahun. Modal adalah sumber dana yang berasal dari pemilik perusahaan/pemegang saham dan memiliki umur tidak terbatas.

 

Laporan Perubahan Modal

Laporan Perubahan modal menunjukkan laba yang diperoleh perusahaan dan dividen yang dibayarkan selama satu periode sehingga menyebabkan perubahan modal perusahaan. Tabel 2-3 adalah Laporan Perubahan Modal Alpha Products tahun 2003. Laba tahun berjalan sebesar $ 235 (juta) menambah saldo Laba Ditahan awal tahun. Pembayaran dividen saham preferen $8 (juta) dan saham biasa $115 (juta) mengurangi saldo Laba Ditahan. Pada akhir tahun, saldo Laba Ditahan menjadi $ 1,532 (juta).

 

Tabel 2-3 :

Alpha Products Statement of Retained Earning, Dec 31, 2003 ($millions)

 

Retained Earning Balance (Jan 1, 03)

$1,420

Plus: Net Profit After Taxes

(for 2003)

$235

Less Cash Dividend :

Preferred Stock

$8

Common Stock

$115

Total Dividend Paid

($123)

Retained Earning Balance (Dec 31, 03)

$1,532

 

 

Laporan Arus Kas

Laporan Arus Kas merupakan ringkasan arus kas selama satu periode. Laporan ini menunjukkan perubahan arus kas yang terjadi karena kegiatan operasi, investasi dan financial sehingga posisi/saldo kas berubah.

Tabel 2-4 adalah Laporan Arus Kas Alpha Products tahun 2003. Pada tahun berjalan perusahaan menghasilkan kas dari kegiatan operasi sebesar ($5 juta). Kas yang berasal dari kegiatan investasi ($ 460 juta) dan kas yang berasal dari kegiatan financing/ pendanaan sebesar $325 juta. Dari sini terlihat bahwa perusahaan banyak menggunakan kas sehingga terjadi penurunan kas (nilai kas minus). Kegiatan financing yang ada tidak mencukupi dan tidak dapat menutup kebutuhan kas sehingga terjadi penurunan kas (net decrease in cash and marketable securities).

Tabel 2-4 :

Alpha Products Statement of Cash Flows for 2003 ($millions)

Operating Activities :

        Net Income

$235

  Additions (Sources of Cash)

       Depreciation

$200

       Increase in Account Payables

$60

       Increase in Accruals

$20

  Subtractions (uses of Cash)

      Increase in Account Receivables

($120)

      Increase in Inventories

($400)

   Net Cash Provided by Operating Activities

($5)

Investment Activities :

   Cash used to acquired fixed assets

($460)

Financing Activities :

  Increase in Notes Payable

$100

  Increase in Bonds

$348

  Dividend Payment

($123)

Net Cash Provided by Financing Activities

$325

Net Decrease in cash and marketable securities

($140)

 

Laporan Laba Rugi Komperhensif

Laporan rugi laba adalah laporan yang menunjukkan kinerja atau prestasi operasi perusahaan selama satu periode operasi. Laporan rugi laba digunakan oleh pengguna untuk:

1.    Mengevaluasi kinerja/prestasi periode lalu suatu entitas dan membandingkannya dengan kinerja perusahaan lain yang sejenis.

2.    Laporan rugi laba dapat digunakan sebagai dasar memprediksi kinerja perusahaan di masa yang akan dating.

3.    Menaksir risiko dan ketidakpastian pencapaian arus kas masa depan. Dengan informasi tentang pendapatan dan biaya pengguna dapat mnaksir risiko ketidaktercapaian arus kas masa depan perusahaan.

Walaupun manfaat yang diberikan laporan rugi laba cukup banyak, namun pengguna harus menyadari bahwa beberapa pos dalam laporan  laba-rugi disusun berdasarkan asumsi dan estimasi. Beberapa kelemahan lain adalah:

1.    Suatu peristiwa atau transaksi yang tidak bisa diukur dengan andal tidak akan dilaporkan dalam laporan rugi laba meskipun mungkin mempengaruhi operasi perusahaan.

2.    Jumlah laba atau penghasilan sangat dipengaruhi oleh metode akuntansi yang digunakan.

3.    Pengukuran laba/penghasilan banyak melibatkan pertimbangan.

Laporan rugi laba sering digunakan sebagai dasar untuk mengevaluasi kinerja/prestasi perusahaan atau prestasi manajernya. Informasi laba atau rugi dalam laporan ini juga bisa mempengaruhi harga saham perusahaan yang tercatat di bursa efek. Agar prestasi suatu perusahaan atau manajernya tampak baik, maka sering terdapat dorongan atau motivasi untuk menyesuaikan laba agar sesuai atau melebihi target atau membuat laba terlihat kurang berisiko. Perilaku ini membuat kualitas informasi dalam laporan rugi laba menjadi berkurang keandalannya. Tindakan ini disebut Manajemen laba (Earnings Management), yaitu merencanakan pengakuan pendapatan, biaya, keuntungan atau kerugian dengan maksud meratakan laba. Tindakan ini dilakukan dengan meningkatkan pendapatan dengan mengakui pendapatan masa yang akan dating pada periode sekarang atau menunda pengakuan pendapatan periode ini untuk diakui di periode yang akan dating. Tindakan yang serupa dapat dilakukan untuk akun-akun biaya, keuntungan dan kerugian. Manajemen laba sering juga disebut Perataan laba (Income Smoothing).

 

BENTUK LAPORAN RUGI LABA

ELEMEN-ELEMEN LAPORAN RUGI LABA

Penghasilan (laba) neto entitas dihasilkan dari transaksi-transaksi pendapatan, biaya, keuntungan atau kerugian. Seluruh transaksi-transaksi yang berhubungan dengan pos-pos tersebut diiktisarkan dalam laporan rugi laba. Defenisi masing-masing elemen laporan rugi laba adalah:

1.    Pendapatan (Revenue): Arus masuk aktiva atau peningkatan lainnya dari aktiva atau pelunasan hutang  (atau kombinasi dari keduanya) selama suatu periode, yang berasal dari penyerahan barang atau menghasilkan barang, penyerahan jasa, atau aktivitas lainnya yang merupakan operasi utama atau operasi pusat yang berlanjut dari suatu entitas.

2.    Biaya (Expenses): Arus keluar atau penggunaan lainnya dari aktiva atau keterjadian kewajiban (atau kombinasi keduanya) selama suatu periode dari penyerahan atau produksi barang, penyerahan jasa, atau melakukan aktivitas lainnya yang merupakan operasi utama atau operasi pusat yang berlanjut suatu entitas.

3.    Untung (Gains): Peningkatan dalam ekuitas (aktiva neto) yang berasal dari aktivitas incidental (kadang-kadang) atau tambahan (peripheral) suatu entitas dan dari seluruh transaksi lainnya dan peristiwa lainnya dan keadaan yang mempengaruhi entitas selama suatu periode kecuali  yang dihasilkan dari pendapatan atau investasi pemilik.

4.    Rugi (Losses): Penurunan dalam ekuitas (aktiva neto) dari aktivitas incidental (kadang-kadang) atau aktivitas tambahan (peripheral) suatu entitas dan dari seluruh transaksi dan peristiwa lainnya dan keadaan yang mempengaruhi entitas selama suatu periode kecuali yang dihasilkan dari biaya atau distribusi kepada pemilik.



Pelaporan rugi laba dengan menggunakan pendekatan ini dilakukan dengan menyatukan semua sumber pendapatan atas dua bagian, pendapatan dan biaya. Seluruh pendapatan yang berasal dari operasi ataupun non operasi disatukan pelaporannya dan seluruh biaya juga disatukan baik yang bersumber dari operasi maupun dari non operasi. Bentuk laporan laba-rugi dengan menggunakan pendekatan ini adalah:



 

Bentuk ini merupakan bentuk sederhana dari laporan rugi laba. Penggunaan pendekatan ini untuk menghindari kesalahan pengklasifikasian item-item pendapatan dan biaya. Pendekatan ini jarang digunakan untuk laporan rugi laba yang diperuntukkan bagi pengguna diluar perusahaan (kreditur, investor, pemerintah,dll). Bentuk laporan laba rugi ini juga hanya dapat diterapkan pada perusahaan – perusahaan berskala kcil saja.

 



Dengan pendekatan ini, laporan laba-rugi disusun dengan memisahkan pendapatan yang diperoleh dari operasi, biaya-biaya operasi, pendapatan-pendapatan non operasi, dan biaya-biaya non operasi. Pembagian ini membuat laporan rugi laba lebih bermanfaat bagi pengguna. Pengklasifikasian pendapatan dan biaya didasarkan kepada jenis perusahaan dan fungsi-fungsi yang terlibat dalam perusahaan.

Pengklasifikasian yang biasa dilakukan untuk perusahaan manufaktur dan industri adalah:

1.    Bagian operasi, yaitu bagian yang melaporkan pendapatan dan biaya yang terjadi dari operasi utama usaha:

·         Penjualan atau bagian pendapatan operasi. Bagian ini menunjukkan pendapatan, diskun penjualan, penyisihan penjualan, pengembalian penjualan (retur) dan informasi lainnya yang berkaitan dengan pendapatan operasi.  Setiap subseksi itu dijumlahkan untuk memperoleh penjualan neto.

·          Kos dari Barang Terjual (Cost of Goods Sold), yaitu  yang menunjukkan jumlah kos dari barang yang dijual pada periode tersebut.

·          Biaya Penjualan (Selling Expenses), yaitu  yang meunjukkan daftar biaya-biaya yang dikeluarkan untuk menghasilkan penjualan, misalnya biaya promosi, gaji bagian penjualan,dll.

·          Biaya Administrasi dan Umum (Administrative or General Expenses), yaitu  yang melaporkan biaya-biaya administrasi atau biaya umum.

2.    Bagian Non Operasi, yaitu laporan pendapatan dan biaya yang dihasilkan dari aktivitas tambahan atau bukan utama perusahaan. Keuntungan atau kerugian yang jarang terjadi atau yang tidak biasa umumnya dilaporkan di bagian ini. Bagian ini dibai atas dua bagian:

·         Pendapatan lainnya dan keuntungan, yaitu suatu daftar pendapatan yang diperoleh atau keuntungan yang terjadi dari trnsaksi diluar operasi (non operasi).

·         Biaya Lainnya dan kerugian, yaitu suatu daftar biaya atau kerugian yang berasal dari transaksi diluar operasi (non operasi).

3.    Pajak Penghasilan, yaitu pajak penghasilan badan yang dikutip oleh Pmerintah dari operasi yang berlanjut.

4.    Operasi-operasi tidak berlanjut (Discontinued operations), yaitu keuntungan atau kerugian yang material yang dihasilkan dari penjualan suatu segmen usaha

5.    Pos-pos yang tidak biasa (Extraordinary Items) yaitu keuntungan atau kerugian yang tidak biasa dan jarang terjadi

6.    Pengaruh kumulatif dari perubahan dalam Prinsip-Prinsip Akuntansi, yaitu pengaruh perubahan prinsip akuntansi yang telah digunakan beberapa period eke prinsip kuntansi yang baru.

7.    Laba per saham (Earnings per share).

Contoh laporan rugi laba yang disajikan menggunakan bentuk multiple step adalah:



Transaksi-transaksi yang jarang terjadi dapat dibagi atas beberapa kategori:

1.    Operasi-operasi yang tidak berlanjut (Discontinued operations);

Operasi-operasi yang tidak berlanjut terjadi karena terjadinya arus kas negatif atau rugi  yang terus menerus dari salah satu segmen bisnis sehingga segmen atau divisi itu harus dihentikan atau dijual. Setelah segmen bisnis dilepas, maka tidak ada keterlibatan perusahaan induk pada segmen atau divisi itu. Keuntungan atau Kerugian yang disebabkan operasi yang tidak berlanjut dilaporkan di laporan rugi laba  setelah bagian “Laba dari operasi berlanjut” namun sebelum pos-pos luar biasa.

2.    Pos-pos luar biasa (Extraordinary Items) merupakan pos-pos yang jumlahnya relatif besar  (material) namun bukan peristiwa yang berulang dan peristiwa itu sangat jauh menyimpang dari aktivitas utama perusahaan dan tidak bisa diramalkan (diprediksi) terjadi. Misalnya: kerugian karena terjadi bencana alam.  Suatu pos dikatakan extraordinary apabila kedua kriteria berikut dipenuhi:

·         Sifatnya tidak biasa;

·         Sangat jarang terjadi atau jarang sekali berulang

3.    Keuntungan-keuntungan dan kerugian-kerugian yang tidak biasa (Unusual Gains and Losses), misalnya: penghapusan piutang usaha, penghapusan persediaan, keuntungan atau kerugian karena fluktuasi kurs,keuntungan atau kerugian karena harga kontrak, keuntungan atau kerugian dari penjualan aktiva tetap;

4.    Perubahan-perubahan dalam prinsip Akuntansi, misalnya perubahan dari penggunaan metode LIFO menuju FIFO dalam akuntansi persediaan, atau perubahan metode penyusutan aktiva tetap.

5.    Perubahan-perubahan dalam estimasi akuntansi, misalnya perubahan umur ekonomis aktiva tetap.

Terdapat tiga cara pelaporan pos-pos yang tidak teratur:

1.    Pendekatan memasukkan seluruh pos-pos tidak teratur (All- Inclusive approach); yaitu memasukkan seluruh pos-pos yang tidak teratur yang terjadi pada periode itu ke laporan laba-rugi. Kesalahan-kesalahan pengukuran atau pelaporan laba dan perubahan-perubahan estimasi dan pemakaian metode akuntansi pada periode yang lalu tidak dimasukkan dalam laporan laba-rugi periode ini, namun disesuaikan ke laba ditahan.

2.    Pendekatan kinerja operasi periode berjalan (Current operating performance approach); Dengan menggunakan pendekatan ini, laporan rugi laba hanya berisi informasi pendapatan dan biaya dari operasi yang teratur. Pendapatan dan biaya yang diperoleh secara tidak teratur tidak dicantumkan dalam laporan rugi laba namun dalam laporan perubahan ekuitas

3.    Pendekatan memodifikasi all-inclusive concept;

Pendekatan ini hampir sama dengan pendekatan all-inclusive concept,  namun untuk pos-pos yang tidak teratur harus tampak jelas (highlighted) di laporan keuangan sehingga pengguna laporan keuangan dapat menilai dengan jelas kemampuan perusahaan  mencapai laba di masa depan. Pendekatan ini juga memasukkan pengaruh kumulatif perubahan prinsip akuntansi periode-periode sebelumnya ke laporan laba-rugi periode sekarang. Pendekatan ini sekarang banyak digunakan dalam praktik.

 

NERACA (LAPORAN POSISI KEUANGAN )


Neraca merupakan salah satu laporan keuangan pokok yang sering juga disebut sebagai Laporan Posisi  Keuangan atau Laporan Aktiva, Kewajiban dan Ekuitas Pemegang Saham suatu perusahaan bisnis pada suatu tanggal tertentu.

 



Dengan memberikan informasi tentang aktiva, kewajiban/hutang dan ekuitas pemegang saham maka neraca  memberikan dasar untuik:

1.    Penghitungan rates of return dan pengevaluasian struktur modal perusahaan

2.    Menaksir risiko perusahaan dan arus kas masa depan dengan menghitung rasio-rasio likuiditas, solvensi dan fleksibilitas keuangan.

3.    Menaksir kesulitan keuangan perusahaan. Neraca dapat digunakan untuk menaksir kebangkrutan perusahaan. Salah satu model prediksi kebangkrutan perusahaan adalah model yang dikembangkan oleh Altman (1993) yang mengembangkan ukuran Z Score, yaitu kombinasi ukuran neraca dan laporan rugi laba untuk memprediksi kebangkrutan perusahaan. Rumus yang dikembangkannya adalah:


 


Z

=

Modal kerja

x 1,2+

laba ditahan

x1,4+

EBIT

x3,3+

Penjualan

x0,99+

Nilai Pasar Ekuitas

x0,60

aktiva total

Aktiva Total

Aset Total

Aktiva Total

Kewajiban Total

 


Altman menemukan bahwa perusahaan yang memiliki nilai skor Z diatas 1.81  cenderung tidak akan bangkrut sedangkan skor Z dibawah 1.81 cenderung akan bangkrut.

 



1.    Hampir seluruhnya aktiva dan hutang (kewajiban) disajikan pada Kos Historikal (kos berdasarkan bukti transaksi) . Akibatnya pos-pos aktiva dan neraca sangat tinggi keandalannya, namun  tidak mencerminkan nilai saat ini ( Kos sekarang/ Current Cost) dari aktiva dan kewajiban.

2.    Dalam penyajian pos-pos di neraca, banyak melibatkan pertimbangan (Judgement) dan estimasi akuntansi.

3.    Banyak pos-pos yang memiliki kontribusi ke perusahaan diabaikan dan tidak dicatat di neraca (misalnya kos sumberdaya manusia).

 

KLASIFIKASI DALAM NERACA


Akun-akun riil (permanent) harus diklasifikasikan di Neraca. Pemisahan dilakukan antara akun-akun aktiva dan akun-akun kewajiban dan ekuitas pemegang saham. Pemisahan ini dilakukan untuk memudahkan menganalisa sumberdaya yang dimiliki perusahaan dan struktur modal. Untuk setiap kelompok aktiva, kewajiban dan ekuitas, pemisahan juga dilakukan untuk setiap akun yang memiliki karakteristik yang mirip dan memiliki pengaruh yang berbeda terhadap fleksibilitas dan likuiditas keuangan perusahaan. Klasifikasi dalam Neraca dapat digambarkan sebagai berikut:


ASSETS

LIABILITIES

Current Assets

Current Liabilities

 

Cash & Cash Equivalent

Short term investment

 

Account Payable

Unearned Revenue

 

Account Receivable

 

Accrued Expense

 

Accrued Revenue

 

Current Maturities of long term Liabilities

 

Inventories

 

 

 

Prepaid Expenses

Long Term Liabilities

Long Term Investment

 

Bond Payable

Fixed Assets

 

Mortgage Payable

 

Building

 

Long term Notes Payable

 

Accumulated Depreciation of Buildings

STOCKHOLDERS’ EQUITY

Intangible Assets

 

Capital Stock

 

Patent, Copyright,etc

 

Additional Paid-in Capital

Other Assets

 

Retained Earnings

Penjelasan Pos-pos Neraca:


1.    Current Assets (Aktiva-aktiva Lancar), yaitu aktiva  yang akan dikonversi menjadi kas, dijual atau dikonsumsi dalam satu tahun atau satu siklus operasi, mana yang lebih panjang. Aktiva lancar disajikan atau diurutkan di neraca berdasarkan likuiditas. Jika suatu asset dapat dikonversi menjadi kas atau akan digunakan untuk membayar hutang lancar dalam waktu satu tahun atau satu siklus operasi, mana yang lebih panjang, dikategorikan sebagai aktiva lancar.

2.    Long Term Investment (Investasi Jangka Panjang), yaitu investasi dalam sekuritas jangka panjang, investasi dalam aktiva tetap yang tidak digunakan dalam operasi, investasi dalam dana-dana khusus, dan investasi dalam anak perusahaan yang tidak dikonsolidasi atau perusahaan afiliasi.  Investasi jangka panjang merupakan investasi yang dimaksudkan untuk tidak dikonversi atau dijual dalam beberapa tahun

3.    Fixed Assets (Aktiva Tetap), yaitu aktiva yang diperoleh perusahaan untuk dipakai dalam operasi normal perusahaan dan memiliki umur ekonomis jangka panjang (lebih dari satu tahun). Aktiva tetap biasanya disajiakn bersma dengan akun kontra (Contra Account) Akumulasi Penyusutan (Accumulated Depreciation).

4.    Intangible Assets (Aktiva-Aktiva Tak Berujud), yaitu aktiva yang tidak atau kurang memiliki substansi fisik  dan bukan merupakan instrument keuangan.  Dalam jangka panjang, aktiva berujud diharapkan dapat menambah arus kas masuk melalui peningkatan pendapatan pada perusahaan. Contoh dari aktiva ini adalah: Paten, Goodwill, hak cipta (Copyright).

5.    Other Assets (Aktiva-aktiva Lainnya), yaitu aktiva-aktiva yang tidak dapat dikategorikan pada aktiva-aktiva yang lain.

6.    Current Liabilities ( Hutang-hutang lancar), yaitu hutang yang akan dilunasi dalam jangka waktu satu tahun atau satu siklus operasi, mana yang lebih panjang. Hutang lancar diharapkan akan dibayar dengan menggunakan aktiva lancar. Termasuk dalam kategori hutang lancar adalah: hutang dagang (Account Payable), Biaya yang masih terhutang (Accrued Expense), Pendapatan diterima dimuka (Unearned Revenue) dan hutang jangka panjang yang akan jatuh tempo dalam satu tahun (Current Maturities o Long Term Liabilities). Hutang Lancar diurutkan berdasarkan urutan jatuh tempo dari hutang.

7.    Long- Term Liabilities (Hutang Jangka Panjang), yaitu hutang yang tidak akan dilunasi dalam siklus operasi atau satu tahun. Hutang ini  jatuh tempo pada suatu tanggal beberapa tahun kemudian. Contoh jenis hutang ini adalah hutang obligasi (Bond Payable)

8.    Stockholder’s Equity (Ekuitas Pemegang Saham), sering juga disebut sebagai aktiva neto (Net asset), yaitu sisa aktiva setelah dikurangi seluruh kewajiban kepada kreditur apabila diasumsikan perusahaan dilikuidasi. Termasuk dalam kelompok ini adalah: modal saham (saham biasa atau saham preferen), tambahan modal disetor (Paid in Capital), dan laba ditahan (Retained Earnings).


Contoh Laporan Posisi Keuangan (Neraca) versi IFRS


Soal Latihan:

Berikut ini merupakan data yang disarikan dari neraca saldo PT. MAHKOTA Sukses untuk periode yang berakhir 31 desember 2017. Seluruh data dalam ribuan (000). Susunlah laporan rugi laba dalam format langkah ganda (multiple step) serta sajikan juga neraca. Asumsikan: Persediaan akhir barang dagang Rp. 370.000 dan pajak 30%.

 

Cash and bank

 Rp   205.000

Retained earnings

 Rp1.016.480

Short term investment

 Rp   115.000

Sales

 Rp6.700.000

Account Receivable

 Rp   456.000

Sales return and allowance

 Rp     25.000

Allowance for doubtful account

 Rp      9.120

Sales discount

 Rp     67.000

Prepaid insurance

 Rp   123.000

Purchase

 Rp2.300.000

Merchadise inventory

 Rp   478.000

Purchase discount

 Rp     25.000

Long term investment

 Rp1.250.000

Purchase return and allowance

 Rp      6.700

Land

 Rp2.300.000

Freight in

 Rp      7.800

Building

 Rp5.600.000

Sales commisions expense

 Rp     56.000

Accumulated depreciation of buildings

 Rp   280.000

Travel and entertainment expense

 Rp     90.000

Other assets

 Rp   120.000

Accounting and legal services

 Rp   120.000

Account payable

 Rp   450.000

Insurance expense

 Rp     34.000

Tax Payable

 Rp     97.000

Supplies Expense

 Rp     46.000

Interest payable

 Rp   123.700

Bad debt expense

 Rp      6.700

Current maturities of long term debt

 Rp     25.000

Advertising expense

 Rp   267.000

Bond payable

 Rp   231.000

Depreciation expense

 Rp      4.500

Notes payable

 Rp   200.000

Telephone-sales expense

 Rp   132.000

Common stock

 Rp4.500.000

Rental revenue

 Rp   224.000

Additional paid in Capital

 Rp   565.000

Extraordinary loss

 Rp   560.000

Interest expense

 Rp     90.000

Tidak ada komentar:

Posting Komentar